Benarkah Buku Musnah Menjelma Digital?

Benarkah Buku Musnah Menjelma Digital?

Setelah tersiar kabar edisi cetak Newsweek tutup karena tergeser edisi digital, maka semua yang berkutat pada dunia cetak mulai waspada. Maklum, Newsweek merupakan raksasa media cetak yang sudah berumur lebih dari 80 tahun. Lalu bagaimana dengan nasib buku? Apakah juga akan musnah?

Tidak bisa dimungkiri, adanya konten-konten digital membuat penjualan buku merosot drastis. Namun demikian ada beberapa hal yang menjadikan buku tetap tidak bisa tergantikan. Terutama pada kenyamanan dalam membacanya. Maka orang-orang yang suka membaca, tidak bisa berpindah dari dunia digital sepenuhnya. Oleh sebab itu toko-toko buku masih tetap bertahan.

Namun jangan terlalu pede terlebih dahulu. Dengan mudahnya orang mengakses bacaan melalui dunia digital, maka pembaca kemudian sangat selektif dalam membaca buku fisik. Oleh sebab itu buku dengan kualitas biasa akan sangat sulit diserap pasar, bahkan sedikit bagus tidak cukup. Harus cukup bagus dan enak untuk dibaca.

Fenomenanya adalah, setiap orang kini membaca dulu edisi digital sekilas, mungkin beberapa halaman. Jika kemudian benar-benar bagus, pembaca akan membeli edisi cetak untuk koleksi dan kepuasan pribadi. Penulis sendiri pernah mengalami hal demikian saat membaca 47 Ronin. Ada ketertarikan, kemudian pada akhirnya membeli edisi cetak meski sudah menonton filmnya.

Hal yang sama sebenarnya terjadi pada media lain selain buku, dunia musik. Memang semua orang mudah untuk mendownload. Namun ternyata bisnis kepingan hitam tidak hilang, atau habis. Justru ketika mendengarkan dan mendapatkan klik akan membeli piringan hitam tersebut.

Seperti yang dialami oleh David Karto seperti dikisahkan dalam Kompas, Jum’at, 23 Oktober 2015. Ia menceritakan bahwa justru di era digital ini piringan hitam menemukan pasarnya karena dipesan sampai ke luar Negeri. Uniknya, lagu-lagu yang dipasarkan justru yang jarang dikenal di layar kaca, tapi menurut David berkualitas luar biasa.

Titik penting terletak pada sisi kualitas. Jika setengah-setengah kualitasnya, lebih baik jangan dicetak, jika cukup bagus maka layak untuk dicetak. Penulis sendiri merasakan bahwa dunia buku masih tetap ada, bahkan mendapatkan pemesanan setiap bulan sekitar 50 eksemplar. Tergolong cukup untuk penulis Indie. Apalagi penerbit mayor, pasti jauh lebih banyak. Oleh sebab itu justru sekarang eranya menarik hati konsumen tanpa memandang penerbit dan penulis.
Metode Menulis Otodidak Iman Supriono

Metode Menulis Otodidak Iman Supriono

Iman Supriono adalah pakar manajemen yang tinggal di Surabaya. Biro konsultannya yang terkenal adalah SNF Consulting, namun beliau juga menulis banyak buku manajemen dan motivasi. Bukunya yang banyak terjual adalah Guru Goblok vs Murid Goblok. Namun demikian yang unik dari pria berbadan kurus ini adalah caranya belajar menulis secara otodidak.

Saya mendengarkan penjelasannya ketika menjadi moderator dalam Islamic Book Fair Surabaya 2014. Saya pribadi belum pernah mendengarkan metode menulis otodidak seperti yang dipaparkan Iman Supriono ketika itu.

Konsultan manajemen tersebut meyakini bahwa metodenya benar, meskipun bagi orang lain tidak masuk akal. Ini yang pertama di tanam dalam diri beliau. Selanjutnya yang dilakukan hanyalah mewajibkan diri untuk menulis setiap hari paling tidak satu halaman buku tulis, dan akan terus berkembang secara jumlah halaman setiap hari.

Hanya itu, ya. Tapi ini sangat sulit dilakukan. Kontinuitas yang berkepanjangan adalah hal paling melelahkan. Iman Supriono mewajibkan diri ini hampir empat tahun. Intinya menulis setiap hari, dalam hal apapun. Menulis tentang perempuan, tentang makan, keadaan perut lah, atau bahkan keadaan hati yang sedang tidak menentu. Yang terpenting nulis setiap hari tanpa berhenti.

Dasar dari metode ini adalah keyakinan bahwa menulis sebenarnya bukanlah teori, tapi praktek yang dilakukan terus menerus dan akan berkembang dari satu latihan ke latihan yang lain. Boleh dikatakan Iman Supriono seperti Ronaldinho atau Ronaldo yang berlatih sepakbola dari jalanan, tanpa akademi. Ya, Iman Supriono belajar menulis juga sendirian tanpa seorang guru.

Yang paling menimbulkan pertanyaan tentu saja bagaimana cara Iman Supriono mengetahui perkembangan tulisannya. Beliau membacanya kembali tulisan yang dibuat. Jika dirasa tulisan tersebut sudah cukup baik maka beliau baru berhenti dan memulai untuk menulis buku. Tentu saja bukan dengan penilaian asal-asalan, tapi juga membandingkannya dengan tulisan lain.

Uniknya, beliau baru mengatakan bahwa tulisannya dirasa sudah cukup baik justru setelah hampir empat tahun menulis setiap hari tanpa jeda. Ingat! Setiap hari tanpa jeda. Waktu yang panjang bukan? Padahal kelemahan banyak orang adalah memaksa diri untuk konsisten.


Hasilnya memang luar biasa, kini beliau memiliki lebih dari 7 buku yang sudah ditulis. Tergolong cukup banyak untuk penulis di Indonesia. Bagi yang ingin untuk mengikutinya, tentu saja harus memahami dua hal. Pertama, menanamkan keyakinan yang sangat tinggi dengan metode yang dijalani. Kedua, konsisten dengan hal yang sudah diyakini. Dari sini kesuksesan dalam menulis bukanlah hal yang mustahil.  
Fungsi Paragraf Komparasi atau Perbandingan

Fungsi Paragraf Komparasi atau Perbandingan

Dalam menulis ilmiah, atau bahkan artikel ringan yang populer, paragraf komparasi memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan deskripsi atau definisi. Paragraf komparasi artinya membandingkan antara satu hal dengan hal yang lain. Maka dari perbandingan ini akan didapatkan sebuah penjelasan.

Contoh: ketika mengatakan masjid di desa Ponolawen sangat megah dibandingkan dengan masjid Agung Pekalongan. Orang pasti akan mengira kemegahannya biasa. Namun demikian ketika perbandingan ini ditulis, masjid di desa Ponolawen sangat megah dibandingkan masjid Kubah Mas. Pasti pembaca dari tulisan ini terkesima, masjid Kubah Mas saja begitu megah, apalagi masjid Ponolawen.

Yang sering terjadi adalah, perbandingan yang ditulis cenderung tidak seimbang. Dalam arti jika ingin membandingkan dari sisi kelebihan sebuah sekolah, maka sekolah A harus dilihat dari segi kurikulum, sekolah B juga harus dilihat dari segi kurikulum. Bukan membandingkan dari sekolah A kurikulum, tapi sekolah B justru dilihat dari fasilitas. Ini paragraf komparasi atau perbandingan yang fatal. Bahkan penulisnya akan terlihat bodoh.

Belum lagi ketika membandingkan tiga hal di satu paragraf, jika belum memiliki kelihaian, maka pembaca akan sulit mencerna. Paragraf yang sedemikian pendek terlalu ribet jika dijadikan perbandingan lebih dari dua hal. Kalaupun memang ada tiga hal yang harus dibandingkan, maka yang ketiga lebih baik di paragraf selanjutnya.

Penulis juga harus punya seni dalam membandingkan dua hal yang dikomparasikan. Menjadikannya head to head, atau justru menjelaskannya terlebih dahulu secara tuntas, baru kemudian dibandingkan dengan yang lainnya. Ini tergantung bahan dan bagaimana gaya penulis dalam memaparkan.

Oleh sebab itu banyak tulisan justru ketika memasukkan sebuah perbandingan, tidak menjadikan penjelasannya semakin gamblang, namun justru membuat pembaca semakin pusing dan mengernyitkan dahi untuk benar-benar memahami maksud dari tulisan. Jika ingin kuat di tulisan non fiksi, maka paragraph komparatif atau paragraf perbandingan harus dikuatkan.

Belajar Menjual Buku Indie dari Ust. A. Yani

Belajar Menjual Buku Indie dari Ust. A. Yani

Di dunia dakwah, nama ust. A. Yani tidak begitu tenar seperti ustadz lain yang sering muncul di televisi. Meskipun tinggal di Jakarta, namun beliau sudah sering diundang ke beragam kota dan desa di seluruh Indonesia.  Yang unik adalah, beliau juga menulis buku dan menerbitkannya sendiri sekaligus menjualnya sendiri.

Secara kualitas, menurut saya, buku-buku beliau tergolong standard. Secara gaya penulisan biasa, dan cenderung seperti umumnya dai yang menulis dengan mencantumkan dalil kemudian dijelaskan panjang lebar. Bahkan cover banyak buku beliau sangat sederhana. Meskipun ada beberapa yang memang tergolong bagus.

Namun demikian buku yang beliau tulis saya akui tersegmentasi dengan baik dan pas dengan objek yang dituju. Buku beliau memang memenuhi apa yang dibutuhkan oleh para dai dan masjid. Tengok saja tema-tema yang beliau tulis, seputar materi khutbah, seputar pengelolaan masjid, dan seputar persoalan Islam. Artinya ini memang yang memenuhi kebutuhan umat Islam.

Cara beliau menjual juga sangat tepat. Buku-buku semacam tuntunan untuk berdakwah atau khutbah memang ditawarkan ke khalayak umum lewat bbm dan segala macamnya, namun secara khusus beliau mencari donatur yang mau untuk mendonasikan hartanya dan mewakafkan para dai lewat beliau. Maksudnya beliau mencari donatur yang mau membelikan untuk para dai-dai di seluruh pelosok Indonesia, dan juga untuk banyak masjid. Efeknya, tentu saja buku beliau tepat mencapai sasaran.

Selanjutnya, beliau tidak gengsi untuk menjual bukunya ketika berdakwah, tentu saja bukan dengan jalan memaksakan kepada para jama’ahnya, namun cukup dengan membawa saja di sebuah halaqah yang beliau isi, nanti jama’ah dipersilahkan untuk membeli. Dugaan saya, karena buku-bukunya memiliki tema yang tidak jauh dari dakwahnya, maka buku beliau tergolong cukup baik diterima oleh pembaca.

Yang cukup heboh adalah ketika beliau diundang ke sebuah acara, dan panitia sudah memesan sekian buku untuk dibawa. Kesusahan dalam membawa ratusan buku menjadi cerita tersendiri bagi ust. A. Yani. Mulai dari kelebihan muatan, sampai harus membayar ongkos lebih dll. Yang pasti, beliau adalah dai kreatif dan belum banyak yang melakukan seperti yang sudah beliau kerjakan.

Untuk Apa Menulis Jika Tidak Dibaca?

Untuk Apa Menulis Jika Tidak Dibaca?

Saya mendapatkan pertanyaan ini ketika mengisi acara bedah buku “Resep Ajaib Menulis Novel”. Pertanyaan ini seolah menyatakan bahwa ketika kita menulis dan tahu bahwa nantinya tulisan kita tidak banyak orang untuk membaca, maka untuk apa kita menulis?

Coba kita perhatikan apa yang dilakukan perempuan ketika mereka menulis. Ya, perempuan ketika menulis tidak pernah berpikir untuk dibaca banyak orang tulisannya, bahkan seringkali menyembunyikan hasil tulisannya dalam sebuah agenda yang tertutup dan dikunci dengan gembok yang sedemikian rupa. Lalu untuk apa mereka menulis?

Menulis menjadi sebuah media untuk mengeluarkan gejolak gelisah yang ada di dalam hati kita. Tulisan memang sebuah sarana paling ampuh untuk mengeluarkan segala amarah, sedih, bahkan rasa bahagia, banyak ungkapan yang tidak bisa diucapkan, mampu untuk ditulis dan membuat isi hati menjadi lega kemudian.

Menulis memiliki sisi lain sebagai terapi untuk hati yang gundah gulana. Anda pasti tahu curhat dengan bercerita ke teman menjadikan hati yang tadinya sesak menjadi terasa plong kemudian. Begitu juga dengan menulis. Ajaibnya, ketika curhatan tersebut tertata, dan kemudian enak dibaca, justru banyak orang yang ingin menikmati hasil karya Anda. Catatan Hati Seorang Istri adalah salah satu contohnya.

Isi dari buku tersebut adalah cerita-cerita dramatis dalam bentuk curahan hati oleh sosok perempuan. Asma Nadia mengemasnya dengan manis, dan menyajikannya menjadi sebuah buku yang selanjutnya justru menjadi cermin bagi para perempuan yang merasakan hal yang sejenis.

Maka Anda tetap harus menulis meski tahu tidak banyak yang akan membaca, karena bisa jadi justru dengan menulis hati Anda tenang dan nyaman dalam menghadapi setiap persoalan.

Tips menulis artikel bagus 1

Tips menulis artikel bagus 1

Pada sesi ini klinik menulis akan memberikan satu tips sederhana agar tulisan artikel kita menjadi lebih baik, bagus, dan enak untuk dibaca.

Seringkali penulis terjebak dengan kesalahan-kesalahan umum yang biasa dilakukan oleh penulis. Salah satu kesalahan mendasar dalam menulis artikel adalah pengulangan kata yang sama dalam satu paragraf, terlebih dalam satu kalimat. Ini membuat pembaca akan bosan dan tulisan akan tampak monoton.

Kata-kata yang biasanya diulang dalam menulis adalah ‘yang’, ‘dan’, ‘maka’, dan sejenisnya. Contoh:

Fandi orang yang sangat pintar yang rajin mengatur waktu hingga sukses dalam setiap pekerjaan.

Dalam kalimat di atas tampak kata yang terulang dua kali, ini sangat tidak bagus dalam susunan sebuah kalimat. Bandingkan dengan ini:

Fandi orang pintar yang rajin mengatur waktu hingga sukses dalam setiap pekerjaan.

Sebenarnya yang dihilangkan hanyalah kata yang, namun demikian memiliki efek bahwa tulisan tersebut menjadi jauh lebih bagus dari sebelumnya dan enak dibaca.

Biasanya setiap penulis memiliki kebiasaan pengulangan kata yang sama untuk semua paragraf. Ada yang sangat suka dengan ‘yang’, ada juga yang sangat suka dengan ‘dan’. Untuk menghilangkannya caranya mudah. Pertama, baca ulang artikel tersebut kemudian berikan garis bawah pada kata yang sama.

Kedua, hilangkan salah satu kata pada tempat yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kata tersebut. Ketiga, pilihlah susunan kalimat yang sesuai sehingga kalimat terlihat efektif dan efisien dalam menyampaikan ide kepada pembaca.

Selamat mencoba.
Pengertian dan Fungsi Paragraf Klasifikasi

Pengertian dan Fungsi Paragraf Klasifikasi

Klasifikasi memiliki arti penyusunan bersistem dalam sebuah kelompok atau golongan menurut kesamaan jenis. Demikian pula dengan paragraf klasifikasi, paragraf ini merupakan jenis paragraf yang mengelompokkan sebuah ide berdasarkan kesamaan. Ciri-cirinya tentu saja ada pengelompokkan.

Biasanya kalimat awal dari paragraf ini selalu “Ada beberapa kelompok”, atau “Ada tiga macam ilmu dalam...”. Selanjutnya isi dari paragraf tersebut adalah penjabaran dari beberapa kelompok yang telah disebutkan.

Untuk latihan, paragraf ini menurut hemat penulis tergolong paling mudah karena hanya mengelompokkan namun tidak menjabarkan. Namun demikian paragraf klasifikasi selalu membutuhkan ketelitian dalam mengelompokkan sesuatu. Kelemahan umum dalam pembuatan paragraf ini biasanya di kalimat topik menyebut tiga macam ilmu agama, penjelasannya justru menyebut ilmu pengetahuan alam.

Fungsi paragraf klasifikasi secara khusus bisa digunakan sebagai kesimpulan dalam sebuah tulisan. Hasil ide-ide yang dibahas panjang lebar akan lebih sistematis jika disimpulkan dan menggunakan paragraf klasifikasi.

Saran penulis jika ingin matang menulis ilmiah, lebih baik harus menguasai paragraf ini.
Contoh Paragraf Klasifikasi

Contoh Paragraf Klasifikasi

Setelah berkunjung ke Surabaya, saya mendapatkan dua kesan mendalam tentang kota pahlawan tersebut. Pertama, cuaca yang begitu panas. Suhu di Surabaya tergolong paling tinggi di antara kota lain di Indonesia, bisa mencapai 38 derajat di waktu siang, baju selalu basah akibat keringatan. Kedua, mayoritas pedagang di Surabaya dari Madura dan Lamongan. Beberapa kali saya mencoba makanan dari pedagang di Surabaya, dan beberapa kali juga saya menemukan bahwa penjualnya tidak ada satupun orang Surabaya, namun dari Madura dan Lamongan. Dua hal ini bagi saya sangat berkesan sekali.

Dari contoh tersebut bisa diperhatikan ada tiga ciri-ciri dari paragraf klasifikasi.

1. Memiliki ide pokok yang memaparkan pengelompokan sesuatu tentang kesan dari kunjungan. Ini ciri yang paling penting.

2. Pengelompokan yang terbagi menjadi dua memiliki kesesuaian dengan topik awal yang ingin menyatakan bagaimana dua kesan mendalam akan kota pahlawan. Kelompok pertama menyatakan cuaca Surabaya yang sangat panas. Kelompok kedua menyatakan bahwa mayoritas pedagang bukan berasal dari surabaya.

3. Tidak ada pertentangan antara kalimat topik dengan isi dari paragraf.
Fungsi Paragraf dalam Tulisan Non Fiksi

Fungsi Paragraf dalam Tulisan Non Fiksi

corelita.com
Umumnya orang sudah mengetahui apa sebenarnya paragraf, sebuah bagian sub-sub dalam sebuah karangan yang ditandai dengan baris baru atau alinea baru. Namun demikian seringkali yang banyak tidak dimengerti justru fungsi utama dari paragraf tersebut dalam membuat sebuah artikel.

Pada dasarnya setiap paragraf mengandung unsur satu ide pokok dan penjelas dari ide pokok tersebut. Dengan kata lain fungsi penyampaian ide akan terkandung dalam setiap paragraf yang ditulis. Yang selanjutnya dijelaskan dengan baik dalam paragraf tersebut hingga tuntas.

Kelemahan penulis biasanya adalah menuliskan banyak ide pokok dalam sebuah paragraf, hal ini biasanya diakibatkan dari tidak adanya kalimat topik yang mengikat ide pokok tersebut. Akibatnya tentu saja antara ide pokok dan penjelas menjadi rancu. Efeknya adalah alur ide dalam artikel menjadi tidak jelas, bahkan cenderung membingungkan.

Maka tidak heran jika terdapat banyak model paragraf, klasifikasi, deskripsi, eksposisi dan beragam macam paragraf lainnya. Masing-masing model memiliki fungsi tersendiri dalam memaparkan sebuah ide. Contoh paragraf klasifikasi, fungsi utamanya untuk mengelompokkan beberapa ide turunan dari ide pokok.

Artinya kelihaian penulis dalam memaparkan ide bergantung dari model penjelasan paragraf yang digunakan. Kok rumit ya, memang secara teori menulis argumentatif tergolong rumit. Namun hasil tulisannya akan jauh lebih bagus dari tulisan yang tidak terstruktur.

Efek positifnya ketika menggunakan paragraf dengan baik adalah runtutan ide yang begitu bagus, ditambah dengan logika dalam mengurai masalah menjadi cukup baik. Efeknya pembaca akan mendapatkan pemahaman yang baik, dan ide dalam tulisan akan tersampaikan.

Namun demikian jangan menggunakan metode ini untuk fiksi. Fiksi dan non fiksi memiliki struktur berbeda dalam menulis paragraf, fungsinya juga sangat berbeda. Sehingga jika dicampur baur akan membingungkan, bahkan cenderung merusak. Maka wajar ada yang menyatakan, jika sudah menulis fiksi, sulit menulis artikel imiah. Sebaliknya, jika sudah menulis ilmiah, kurang halus dalam menulis fiksi. Apakah benar demikian? Akan kami jelaskan di bab selanjutnya. 
Tips Menjadikan Opini Cepat Dimuat

Tips Menjadikan Opini Cepat Dimuat

Sudah berapa kali mengirim opini dan ditolak oleh koran? Puluhan atau bahkan ratusan? Ini memang sudah biasa dialami oleh seorang penulis opini. Namun Anda harus mengikuti kata pepatah yang menyatakan “jangan melakukan kesalahan sampai berkali-kali”. Oleh sebab itu perhatikan beberapa hal yang paling dipertimbangkan oleh koran dalam menerima tulisan opini yang Anda kirimkan.

1. Otoritas penulis. Faktor ini menjadi faktor yang paling diperhatikan oleh koran dalam menilai sebuah opini. Jika tulisan berkaitan tentang hukum, maka penulis yang memiliki kepakaran dalam hukum lebih diutamakan. Bukan berarti anak smp tidak akan berhasil menulis opini, ketika anak smp menulis tentang kehidupan smp, maka ia memiliki otoritas dalam menulis tersebut.

Dalam hal otoritas, bagi Anda yang tidak memiliki gelar jangan berkecil hati. Koran juga memperhatikan lembaga-lembaga riset yang memiliki fungsi meneliti dalam kajian-kajian tertentu. Oleh sebab itu jika Anda menulis peneliti politik di Bina Qalam Institute pasti akan menjadi sebuah pertimbangan lebih.

2. Aktualisasi tema opini. Faktor ini sebenarnya adalah faktor pertama yang menjadi pertimbangan untuk dibuka tidaknya tulisan Anda yang masuk ke meja redaksi. Sedang hangat-hangatnya perpecahan partai politik, Anda justru menulis tentang kekuatan moral sepakbola, jelas tidak dibuka. Namun demikian, dalam pertimbangan untuk pemuatan, faktor aktualisasi tema menjadi nomor dua setelah kepakaran. Yang terpenting ketika semua isu ke utara, Anda jangan menulis isu selatan.

3. Sudut pandang penulis. Dalam menulis opini, yang sering terjadi adalah kesamaan sudut pandang antar penulis. Oleh sebab itu, sudut pandang berbeda akan sangat diperhatikan. Contoh: Habis Suara Jusuf Kalla, ini masih biasa, banyak orang yang menulis demikian. Tapi jika ada yang menulis “Jusuf Kalla Dulu dan Sekarang” maka unsur pembandingan menjadi pembeda sudut pandang.

4. Argumentasi penulis. Opini merupakan sebuah pendapat yang beralasan kuat. Maka fungsi argumen akan menjadikan opini Anda tidak terbantahkan, hal ini yang kemudian menjadikan opini Anda laik muat. Disinilah alasan Otoritas penulis sangat dipertimbangkan karena argumentasi yang dibangun pasti memiliki landasan yang kuat.

5. Orisinilitas opini. Tidak semua opini orisinil meskipun dasar argumennya berbeda-beda. Terkadang ada penulis yang mengambil opini orang lain namun ia mencari celah dengan dasar argumen yang berbeda. Ingat, penjaga gawang opini di meja redaksi sudah terlalu sering membaca opini, kemungkinan untuk terkecoh hanya 10%.

6. Sistematika pembahasan. Dalam menulis opini, rata-rata memiliki sistematika pembahasan dengan model piramida terbalik yang berangkat dari hal umum menuju kesimpulan yang khusus. Sistematika yang kacau balau hanya akan menjadikan tulisan tidak dibaca hingga selesai.

7. Kesesuaian dengan persyaratan redaksi. Redaksi tidak memiliki waktu banyak untuk mengedit konten, mayoritas editing hanya pada sisi bahasa. Oleh sebab itu memenuhi syarat dari redaksi, terutama berkaitan dengan jumlah kata yang diminta adalah hal wajib. Terutama jangan melebihi kriteria yang diminta. Kebanyakan jumlah kata hanya menjadikan tulisan Anda dibuka, namun lebih cepat ditutup kembali oleh redaksi.

Selamat mencoba.
Cara Mudah Membuat Resensi Buku 2

Cara Mudah Membuat Resensi Buku 2

6. Perbandingan dengan buku yang sejenis. Ini bagian yang paling sulit dalam resensi, terutama berkaitan dengan jam terbang penulis dalam membaca buku. Jika penulis memiliki jam terbang membaca yang sedikit, maka akan sulit menemukan buku yang sejenis, terutama berkaitan dengan kesamaan tema. Jika sudah menemukan, maka bandingkanlah dengan buku tersebut.

Jika memang lebih baik dalam beragam sisi maka sampaikan beragam sisi tersebut. Contoh: buku ini dibandingkan dengan buku yang sejenis semacam buku A memiliki kelebihan dalam penyajian ide yang begitu ringan... Jika memang lebih jelek, maka juga harus disampaikan. Contoh: dibandingkan buku yang mirip semisal buku B, buku ini memiliki kekurangan dalam sistematika ide yang berlompat-lompat.

7. Kesimpulan dan saran. Jika dalam review handphone, saran yang diberikan tentu saja untuk membeli handphone tersebut. Dalam resensi buku, saran yang diberikan tidak sesederhana demikian. Awali dengan sebuah kesimpulan tentang buku tersebut, bagus, buruk, atau mungkin cocok untuk segmen akademisi dan lain sebagainya.

Selanjutnya berikan saran kepada pembaca untuk membaca dengan hati-hati karena ide yang rumit, atau membaca sambil jalan-jalan karena bisa menjadi alternatif hiburan. Hal seperti ini sah saja dalam sebuah resensi.

Yang menjadi perhatian adalah jumlah kata yang disediakan oleh media yang akan memuat sebuah resensi. Jika ruang yang disediakan sedikit, maka tidak semua unsur dimasukkan, biasanya hanya unsur-unsur penting saja yang lebih diutamakan. Membandingkan dengan buku sejenis, atau sisi lain di balik buku tersebut tidak dibahas.

Tentu saja faktor yang paling krusial adalah membaca buku yang akan diresensi secara mendalam agar bisa menelanjangi isi buku dengan sebaik-baiknya.

Cara Mudah Membuat Resensi Buku 1

Cara Mudah Membuat Resensi Buku 1

blog.sribu.com
Resensi buku pada dasarnya merupakan sebuah penilaian penulis terhadap sebuah buku. Artinya resensi buku paling tidak mencakup ulasan tentang buku tersebut dari beragam sisi, sekaligus memaparkan baik buruknya sebuah buku sekaligus rekomendasi sebagai sebuah kesimpulan akhir.

Untuk membuatnya, secara sederhana bisa melihat bagaimana majalah-majalah gadget mereview sebuah handphone yang baru muncul di pasaran. Diulas pabrikan mana yang mengeluarkan, jenis handphonenya, android, ios, atau windows. Jeroan system operasinya, hardware, bahkan sampai detil bentuk fisiknya juga diulas. Begitu pula resensi buku, hanya saja yang direview bukanlah handphone.

Hal paling pokok yang tidak boleh dilewatkan dalam resensi buku adalah informasi pokok dari buku tersebut. Dimulai dari penulis, judul, penerbit, kota penerbit, tahun penerbitan, jumlah halaman, bahkan ukuran. Biasanya ditulis sebagai informasi di awal bagian resensi.
Adapun dalam menulisnya paling tidak ada beberapa bagian pokok yang harus ada dalam resensi tersebut.

1. Pendahuluan, tidak mesti tentang buku tersebut. Leading, awal mula tulisan lebih baik yang benar-benar menggugah pembaca tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan buku tersebut.

2. Pembahasan tentang buku. Baik diri sisi tema, dari sisi penulis, maupun dari sisi sudut pandang yang digunakan penulis harus diurai dengan baik dan mendalam. Bahkan cara penyampaian yang digunakan juga diulas.

3. Konsep kunci dalam buku. Dalam sebuah buku selalu ada konsep kunci, konsep penjelas, ada penjelasan dan penjabaran. Dalam resensi, penulis harus mengungkap apa konsep kunci atau isi inti dari sebuah buku. Jika tidak, maka sangat jelas sekali jika penulis resensi tidak memahami isi dari buku tersebut.

4. Faktor pendukung. Dalam resensi tidak banyak yang mampu mengungkap faktor yang ada di balik penerbitan sebuah buku. Contoh, latar belakang penulis dalam menulis buku. Keadaan ketika buku diterbitkan apakah mencari momentum. Contoh, jika penulis terlihat mengritik pemerintah, maka tampilkan dan jelaskan.

5. Kritik dan sanjungan. Jika dalam buku yang diresensi memili kelebihan, maka patut untuk dijelaskan kelebihan tersebut secara detil, baik dari segi bahasa, cara memaparkan sebuah ide, atau orisinilitas dari ide dalam buku tersebut. Namun jika terdapat ide yang kontroversial, maka penulis resensi juga berhak memberikan kritik dengan porsi yang tidak berlebihan, dikhawatirkan lebih banyak kritik daripada uraian tentang buku. Contoh: ada ide tentang menggulingkan presiden dan ide ini tidak relevan di masa demokrasi seperti sekarang, maka diutarakan.

Next
Pentingnya Gaya dalam Tulisan

Pentingnya Gaya dalam Tulisan

rudicahyo.com
Pernahkah Anda membaca tulisan kolom Gunawan Muhammad? Bisakah Anda membedakan dengan kolom Ahmad Thohari? Atau, Habiburrahman dengan Andrea Hirata, bisakah Anda membedakannya? Pasti setiap penulis memiliki gaya masing-masing. Namun seberapa penting sebenarnya gaya tulisan? Bagaimana cara untuk memilikinya?

Gaya dalam tulisan bisa dilihat dari beragam sisi kekhasan. Bisa dari penyusunan kalimat, leading tulisan, bisa juga dari gaya penuturan semisal selalu menggunakan tamsil dari kejadian-kejadian sejarah bangsa Jawa, bisa juga dari pemilihan diksi yang pas, kesatuan inilah yang nantinya membentuk sebuah gaya dalam tulisan.

Yang harus digarisbawahi sebenarnya adalah, tidak semua penulis akan memiliki ciri khas, kecuali jika sudah benar-benar matang dalam menulis. Dalam arti, tulisan yang benar-benar khas didapat dari keseringan menulis itu sendiri, sehingga membentuk satu gaya tulisan yang benar-benar unik.

Sedangkan orang yang baru belajar menulis, seringnya ia masih mencari bentuk tulisan yang baku untuk dirinya sendiri. Logikanya, kebagusan tulisan saja belum didapat, sudah pengin mencari bentuk. Atau dewasa saja belum, sudah pengin ganteng. Hal yang agak sulit.

Bentuk tulisan akan didapatkan setelah penulis fasih menulis dengan satu jenis tulisan tersendiri. Contoh, penulis sudah sangat sering menulis opini, maka tulisannya akan terlihat bergaya opini. Contoh lain, penulis sudah sangat sering menulis novel, maka tulisannya memiliki gaya bahasa yang khas seperti novel.

Penulis yang memiliki metode menulis berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, akan sangat sulit mendapatkan bentuk tulisan yang khas. Baru belajar menulis cerpen langsung berpindah menulis opini. Baru belajar menulis resensi, langsung berpindah ke sisi puisi. Cara seperti ini akan sangat sulit memili gaya khas dalam tulisan.

Memang ketika ada sebuah tulisan, kemudian memiliki gaya yang khas akan menjadi nilai sangat lebih bagi penulis itu sendiri. Efeknya, pembaca akan lebih mencintai penulis karena menurutnya memiliki tulisan yang berbeda dari penulis lainnya.

Teknik paling mendasar tentu saja dengan meniru salah satu penulis ternama yang memiliki gaya sangat khas. Tiru kemudian tulis, tiru kemudian tulis hingga gaya yang dimiliki benar-benar matang. Makan pembaca akan menyimpulkan bahwa tulisan Anda mirip dengan penulis A, B, atau C.

Paling sulit memang menemukan gaya sendiri. Sangat tidak mudah untuk menemukan diferensiasi tulisan dibandingkan yang lainnya. Terlebih gaya dalam tulisan tidak banyak orang yang mampu membedakan. Apalagi hanya pembaca biasa yang hanya satu dua kali membaca dalam satu tahun.

Kesimpulannya, lebih baik penulis terus menekuni satu jenis penulisan sampai benar-benar matang. Secara garis besar hanya ada dua kiblat penulisan, fiksi dan non fiksi. Maka pilihlah salah satu kiblat tersebut hingga tulisan Anda benar-benar handal di dalamnya. Gaya, akan Anda temukan dengan sendirinya.
Cara Membuat Resume Yang Baik dan Benar

Cara Membuat Resume Yang Baik dan Benar

adhis.web.id
Resume lebih populer dikenal sebagai ringkasan dari riwayat hidup yang digunakan sebagai modal untuk melamar pekerjaan. Padahal, dalam tulis menulis, resume juga merupakan sebuah istilah dari karya tulisan. Biasanya lebih sederhana disebut semacam sebuah rangkuman hasil bacaan.

Yang paling ditekankan dari sebuah resume adalah penyuguhan hasil pokok bacaan dari sebuah buku. Buku yang pada umumnya memiliki pokok pemikiran disertai penjelasan yang panjang lebar, maka tugas resume adalah mengambil pokok-pokok dari pemikiran yang ada di buku tersebut.

Seringkali penulis resume memasukkan unsur-unsur subjektivitas, atau memasukkan sebuah pendapat dalam resume, ini tidak benar. Resume murni menyuguhkan apa yang ada dalam buku tanpa memberikan bumbu-bumbu pemikiran lain, baik memberikan kritik atau pujian tidak diperbolehkan.

Pertanyaan paling umum seputar resume adalah berkisar pada bahasa yang disuguhkan, apakah sama persis seperti yang ada di buku, atau justru dengan model paraphrase (ungkapan sendiri dengan arti yang sama)? Sebenarnya keduanya diperbolehkan. Hanya saja paraphrase jauh lebih baik.

Dari sisi fungsi, resume memiliki dua fungsi utama. Pertama, sebagai bahan bacaan untuk memahami isi pokok dari buku. Kedua, sebagai bahan rujukan bagi penulis itu sendiri bila suatu hari ingin menggunakannya sebagai bahan rujukan tulisan.

Oleh sebab itu salah satu yang menjadi syarat utama dari resume adalah tercatatnya halaman dari setiap tulisan yang diambil dari sebuah buku disamping keterangan di awal judul buku, penerbit, tahun penerbitan, penulis, tebal halaman, atau keterangan standar dari sebuah buku.

Tentu saja apa yang sudah dijelaskan bukan dalam arti sebagai sebuah resume dari curiculum vitae seseorang, namun lebih teknik penulisan resume sebuah buku.
Menulis Sendiri atau Bersama-sama?

Menulis Sendiri atau Bersama-sama?

blog.sribu.com
Di dunia tulis menulis, dikenal istilah proyek buku bersama. Menulis satu judul buku namun diisi oleh kumpulan artikel dari beberapa penulis. Proyek semacam ini sangat populer sekali, apalagi yang ingin cepat memiliki sebuah buku. Namun demikian ada beberapa hal yang harus diketahui dalam penulisan buku bersama, terutama dari sisi untung ruginya.

Proyek semacam ini sebenarnya sangat populer dalam pembuatan buku ilmiah, sudah sangat biasa, terutama buku-buku ilmiah dari negara-negara barat yang mengikuti konsep pembuatan jurnal. Di Indonesia proyek seperti ini juga sudah biasa untuk buku-buku ilmiah. Namun demikian yang sering terjadi sekarang adalah pembuatan buku bersama dalam konten populer atau fiksi.

Buku bersama sebenarnya memiliki banyak keuntungan bagi penulis-penulis yang ada di dalamnya. Terutama jika editornya benar-benar handal. Sifat buku bersama adalah mengkompilasi tulisan-tulisan terbaik dari personal agar menjadi kumpulan tulisan yang fenomenal. Akibatnya, buku tersebut menjadi kuat secara kualitas.

Namun demikian, biasanya yang ditonjolkan dalam buku bersama hanyalah dua. Pertama, penulis yang paling ternama. Biasanya yang paling dikenal, atau yang paling otoritatif dalam menulis kajian tersebut. Kedua, editor atau kompilator dari artikel-artikel tersebut. Karena tidak bisa dimungkiri bahwa kehandalan kompilator adalah penentu dari kebagusan kualitas buku tersebut.

Memang jangan berharap secara nama akan terangkat, kecuali artikel Anda dalam buku tersebut jauh lebih bersinar dibanding yang lain, lagi-lagi kualitas. Jangan berharap lebih juga akan royalti dari sebuah buku, karena sangat jarang dengan model seperti ini royalti selalu dibagi-bagi, lebih ke konsep beli putus untuk kumpulan penulis yang ada di dalamnya. Namun berharaplah sebagai pembangun pondasi awal motivasi untuk menulis lebih jauh. Cv Anda secara otomatis akan memiliki nilai tersendiri ketika sudah memiliki tulisan yang dikompilasikan menjadi buku.

Yang unik biasanya para penulis yang memiliki motivasi yang terpenting karya tulisnya dibukukan, pokoknya dibukukan. Biasanya tidak ada kompilator handal yang membrendel tulisan-tulisan jelek dan mengasah tulisan bagus menjadi lebih cling. Akibatnya bukan kumpulan tulisan bagus, namun hanya tulisan-tulisan sangat biasa.

Proyek seperti ini jangan berharap lebih untuk kemudian buku tersebut dikenang pembaca. Namun hanya sekadar kebanggaan di antara komunitas. Apalagi orang Indonesia minat baca bukunya rendah, jika disodorkan buku yang kurang baik kualitasnya, maka lebih enggan lagi mereka untuk membaca.

Secara pribadi, penulis lebih mendorong penulis untuk menghasilkan karya secara mandiri. Secara prestisi lebih besar, secara otoritas keahlian lebih diakui, pembaca juga lebih mudah mengingat karya dan penulisnya. Apalagi didampingi editor handal, tulisannya sudah dapat dipastikan keren dan ajib. Ingat, Indonesia lebih senang jaminan dari yang sudah membaca, bukan iklan. Maka sifat buku di Indonesia lambat namun pasti.

Kendala utama dalam penulisan buku secara pribadi adalah sulitnya menghasilkan buku yang sedemikian banyak halamannya, dan berkualitas. Itu memang sudah pasti. Oleh sebab itu banyak yang memilih untuk kompilasi artikel saja. Belum lagi jika didampingi editor dan banyak perbaikan, biasanya penulis enggan. Namun kesulitan dalam menulis mandiri akan terbayar nantinya dengan apresiasi lebih dari pembaca. 
Jenjang Karir Penulis di Indonesia

Jenjang Karir Penulis di Indonesia

kaskus.co.id
Mungkin royalti bagi penulis Indonesia tergolong kecil, penulis-penulis opini di koran tidak seramai sebelum ada dunia digital dari sisi penghargaan, penulis-penulis cerpen sudah tidak memiliki banyak tempat di media cetak, tapi penulis di Indonesia dengan gagah berani tidak pernah mundur, mereka terus menulis. Tahukah Anda mengapa? Ya, ada jenjang karir pasti dari seorang penulis yang banyak tidak diketahui oleh orang banyak.

Tahap awal, biasanya penulis memiliki masa pengenalan. Caranya bisa dengan mengeluarkan sebuah buku, dan dijual di pasar. Sayangnya, banyak yang mementingkan yang penting menerbitkan buku, jelek bagus yang penting diterbitkan. Padahal hukum penulis adalah pembaca. Jika tidak dikenal pembaca bukan penulis namanya. Dan pembaca sangat memperhatikan kualitas. Jika jelek, tidak akan dibaca. Ini yang menjadikan tahap pengenalan sebagai penulis gagal.

Contohlah semacam akademisi yang memiliki tahap awal pengenalan mereka dengan pendampingan menulis dari senior. Misalkan, menulis bersama profesor, sedangkan akademisi tersebut masih bergelar master. Ini memang teknik untuk menaikkan nama penulis. Baru kemudian menulis secara mandiri.

Penulis non fiksi bisa menggunakan teknik ini. Bahkan jika perlu penulis ternama tersebut hanya menulis kata pengantar saja, itu sudah biasa. Jangan heran jika sering menemukan nama penulis lebih kecil dari nama pemberi kata pengantar. Itu karena namanya belum dikenal.

Tahap pengenalan dalam dunia menulis tidak berlangsung hanya dengan satu buku, bisa sampai tiga buku, kecuali buku pertama langsung dinikmati oleh banyak pembaca. Ingat sisi kualitas harus diperhatikan jika memang ingin benar-benar dikenal menjadi penulis handal.

Satu syarat lagi, buku tersebut disebarkan untuk bisa dinikmati pembaca. Hal ini mengingat di zaman print on demand seperti sekarang, banyak penulis yang sudah melahirkan sampai 20 buku, tapi ternyata tidak banyak dikenal pembaca. Ini memang risiko print on demand, karena setiap buku hanya dicetak tidak lebih dari 100, bahkan kadang hanya 5 atau 10 eksemplar.

Pada tahapan pengenalan, penulis banyak yang mengalami kegagalan, berguguran secara alami. Buku pertama tidak laku menyerah, buku kedua tidak laku, patah semangat. Inilah yang terkadang membuat seleksi alam di dunia penulis sangat ketat. Padahal, jika pembaca sudah klik dengan salah satu buku kita, ribuan pembaca akan menanti hasil karya kita selanjutnya. Jangan salah, banyak penulis yang sudah melahirkan sampai 5 buku, namanya masih belum cukup akrab di telinga pembaca, terlebih penduduk Indonesia sangat besar.

Tahap selanjutnya adalah kemapanan. Dalam arti, penulis sudah nancap di hati pembaca, Habiburrahman sudah dikenal sebagai penulis novel religi, Asma Nadia penulis yang mendekati hati wanita, dsb. Mereka lahir dengan kemapanan karena fokus pada satu sisi saja. Fokus di novel, fokus di remaja dengan banyak genre, fokus di wanita, dsb. Hal ini yang sering dilupakan oleh penulis yang belum mapan. Mereka terkadang menggarap remaja, orang tua, anak-anak, cinta, motivasi. Pembaca akhirnya bingung kemampuan penulis sebenarnya dalam bidang apa.

Tahap ketiga adalah diundang. Ya, jika anda sudah mencapai tahap kemapanan dimana orang mengenal sebagai penulis cinta wanita, maka ada saja orang yang mengundang untuk mengisi acara, entah motivasi perempuan, ceramah, dll. Pada tahap ini waktu untuk menulis semakin berkurang. Boleh dikatakan hanya 50% dari waktu untuk menulis yang dimiliki sebelumnya.

Tahap akhir adalah pengamat dan pembicara. Pada tahap ketiga publik akan melihat kualitas komunikasi penulis lewat dunia verbal. Jika bagus, Anda akan nyaman berada pada taraf pembiaca sebuah acara. Pada sisi tulis menulis Anda akan menjadi pengamat, mentor, editor, dll. Semacam Ahmad Dhani yang menjadi komentator penyanyi.

Tahap puncak ini, Anda hanya memiliki rasa rindu pada menulis, sesekali meluangkan waktu saja. Tuntutan Anda menjadi pembimbing junior lebih ditunggu. Dari satu tempat ke tempat lain berpindah. Dari satu majlis ke majlis lain berpindah. Karya Anda yang dulu terus dinikmati banyak orang, penulisnya juga lebih dinanti oleh lebih banyak orang.

Selamat menulis, menulis itu selalu indah bagi yang menikmati.
Mengatasi Sulitnya Memulai Tulisan

Mengatasi Sulitnya Memulai Tulisan

widivici.com
Kesulitan mengawali tulisan adalah persoalan paling klasik yang dimiliki oleh penulis sejak penulis tersebut belajar, atau bahkan memutuskan menjadi penulis. Pertanyaan ini juga paling sering saya temui ketika mengisi di pelatihan dan seminar-seminar. Lalu bagaimana mengatasinya?
Perlu diketahui, persoalan seperti ini sebenarnya tidak hanya hadir pada penulis pemula yang belum pernah dipublikasikan tulisannya, namun juga para penulis senior yang sudah malang melintang menulis di beragam buku dan media masa.
Bagi penulis pemula jika mengalami kendala ini, lebih baik baca buku, kemudian apa yang didapatkan dari buku tersebut menjadi paragraf pertama dari sebuah badan tulisan. Contoh, saya ingin menulis tentang perempuan, maka saya membaca buku Quraish Shihab yang berjudul perempuan. Saya akan menulis, “Dalam buku perempuan karya Quraish Shihab, kecantikan memiliki ukuran yang berbeda-beda tergantung adat dan budaya.”
Teknik ini tidak hanya akan menjadikan Anda bisa memulai sebuah tulisan, tapi juga membuat tulisan Anda menjadi berkelas karena terlihat penulis membaca banyak literatur tentang topik yang ditulisnya.
Jika Anda masih belum mampu mengatasi kebuntuan dengan model seperti ini. Maka comot satu paragraf dalam buku yang dibaca untuk dijadikan paragraf pertama. Wait, berarti copas donk. Ya, ini adalah teknik paling mendasar. Namun jangan dibiarkan ketika tulisan tersebut sudah selesai. Paragraf pertama hapus, ganti dengan tulisan yang ada dalam paragraf-paragraf yang Anda punya setelahnya. Percayalah, paragraf pertama yang Anda buat pertama kali, biasanya hanya sampah (meski tidak semua).
Ya, paragraf yang pertama dibuat biasanya memang sampah. Dengan teknik membuang sampah inilah yang biasanya dilakukan oleh penulis mahir. Mereka menulis terlebih dahulu seluruh badan tulisan untuk menelurkan ide yang ada di kepala. Selanjutnya, paragraf pertama dibuang dan diganti agar lebih kohesi, atau memodifikasinya sedemikian rupa sehingga tulisannya menjadi baik.
Prinsipnya, penulis adalah seniman, seniman. Seorang seniman memiliki feeling luar biasa akan hasil tulisannya. Anda bisa melihat seorang pematung, sudah berbentuk batu yang dibuat patung, namun dia belum berhenti, menghaluskan dengan pahatan kecil agar terlihat sempurna.
Bagaimana jika feeling kita akan tulisan masih belum tajam? Di sinilah fungsi editor, korektor, teman, atau semacamnya. Jangan menyerah untuk menulis.
Royalti Penulis di Indonesia

Royalti Penulis di Indonesia

idliterature.wordpress.com
Menulis buku menjadi impian semua penulis, ini sebuah penegasan dari identitas penulis itu sendiri bahwa dirinya memang seorang penulis. Gengsi memiliki buku memang tinggi, sayangnya seringkali tidak lahir karya kedua, ketiga, dan seterusnya. Hanya mangkir di karya pertama. Boleh jadi alasannya adalah royalti. Ya, banyak yang tidak mengetahui realitas royalti penulis di penerbit. Berikut akan kami jelaskan secara detil. 

Rata-rata royalti penulis di Indonesia sebesar 5-10% dari harga buku. Jika harga buku 100.000, maka royalti yang akan diterima sebesar 5.000-10.000. Rata-rata penerbit di Indonesia mencetak 2.000 eksemplar, maka royalti yang diterima berkisar 10.000.000 sampai 20.000.000. Terlihat besar bukan? Tapi, nyatanya tidak demikian. Royalti dihitung dari buku yang laku di pasaran. Jika hanya terjual 1.000, maka royalti yang didapatkan berkisar 5.000.000-10.000.000. Ingat ini hanya perkiraan dengan harga buku 100.000. Padahal di Indonesia rata-rata harga buku sekarang (2015) sekitar 40.000-60.000.

Uniknya lagi, tidak banyak penulis yang mendapatkan royalti benar-benar 10%. Jika di penerbit kecil, maka hanya mendapatkan 5%, alasannya kemampuan penerbit memang memberikan hanya 5%. Namun di penerbit yang sedikit lebih besar akan mendapatkan royalti sekitar 8%, alasannya masih penulis pemula di penerbitnya. Sangat jarang yang mampu mencapai royalti 10%.

Sekarang ada sistem yang lebih miris lagi. Royalti penulis dibayar dengan buku. Jadi penulis akan mendapatkan 10% dari total cetak. Sekitar 200 eksemplar buku. Nanti terserah penulis bagaimana menjualnya. Sayangnya tidak banyak penulis yang bisa menjual sendiri bukunya, akhirnya dibagikan. 

Untuk persoalan royalti, paling bagus adalah penerbit yang sudah besar dan mapan. Biasanya akan memberikan sebesar 8-12% dari harga buku. Terutama Republika, atau Gramedia yang memiliki jaringan toko buku sendiri. Namun demikian antrinya naskah di sana sampai harus menunggu 2-4 bulan (belum update) untuk mendapatkan jawaban. 

Umumnya, pembayaran dilakukan tidak langsung setiap bulan kepada penulis. Penerbit besar biasanya tiga bulan sekali, penerbit kecil enam bulan sekali. Anda tahu kenapa demikian? Karena royaltinya kecil jika hanya perbulan. Ya, penjualan buku memang tidak begitu cepat.

Yang paling menjengkelkan untuk banyak penulis adalah ketidakjujuran penerbit dalam memberikan laporan kepada penulis. Biasanya dalam kasus cetak ulang, sudah cetak ulang dua kali hanya diberitahu dicetak ulang sekali. Terutama penerbit menengah ke bawah (tentu saja tidak semua). Bagi yang sudah sering berhubungan dengan penerbit kemungkinan besar sudah mengetahui hal demikian. 

Wajar jika kemudian banyak penulis mapan justru menggunakan indie publishing, menerbitkan sendiri. Contoh, Asma Nadia, Dukut Imam Widodo, bahkan Dr. Alfan Alfian juga menerbitkan secara indie.

Memang menerbitkan di penerbit memiliki kelebihan yang tidak bisa dimiliki penerbit Indie (akan dijelaskan lebih detil), terutama kecepatan dalam menegenalkan nama penulis kepada publik, apalagi penerbit indie sangat melelahkan (cek di sini). Namun demikian hal-hal di atas layak dijadikan pertimbangan bagi Anda yang sudah menekuni dunia tulis menulis. 
Usia Paling Tepat Belajar Menulis

Usia Paling Tepat Belajar Menulis

rudicahyo.com
Mizan punya lini penerbitan yang khusus menangani anak-anak dan yang menulis juga masih usia belasan, bahkan ada yang belum genap usia sepuluh tahun sudah memiliki karya, cilik-cilik punya karya. Dilihat dari kasus ini, ternyata anak kecil bisa menulis apalagi remaja.

Namun demikian, kebanyakan yang muncul dari penulis-penulis belia adalah mereka yang memiliki gen untuk menulis, salah satu kemungkinan orang tuanya penulis hingga tahu jalan menjadi penulis, seolah-olah mereka sudah memiliki garis penulis di tangan. Sedangkan untuk belajar menulis, anak muda sebelia itu tidak mudah untuk bisa membalik tangan untuk berkarya.

Tahapan menjadi penulis yang baik tidak singkat seperti yang ada di pelatihan-pelatihan. Mereka memang akan menghasilkan karya, namun karya tersebut jarang membekas di hati pembaca, cetak dan berlalu begitu saja. Menjadi penulis butuh bacaan, jam terbang, ketekunan, dan passion. Ibarat mengasah pisau, maka untuk menjadikan benar-benar dikenal tidak hanya sebatas tajam, tapi apa saja yang sudah ditebas menjadi nilai yang diperhitungkan.

Oleh sebab itu jawaban paling tepat kapan belajar menulis adalah sesegera mungkin yang Anda bisa. Jika masih kecil, maka peran orang tua sangat menunjang. Jangan lupa Faiz anaknya Helvy Tiana yang sudah menjadi penulis di usia sangat belia. Jika masih remaja, maka temukan perkumpulan yang menjadikan Anda sadar bahwa menulis itu penting, faktanya remaja adalah saat-saat dimana suka berkumpul. Jadikan menulis sebagai kegiatan having fun. Atau punya ide “ga’ nulis, ga’ eksis”.

Sekadar saran, jangan mulai belajar menulis ketika sudah berkeluarga dan ingin menjadikan tulisan sebagai ladang utama bekerja, apalagi Anda memang benar-benar menjadi tulang punggung keluarga. Karena proses untuk menjadikan tulisan berubah recehan uang tidaklah sesingkat pekerjaan lain, meskipun nikmatnya kemudian melebihi pekerjaan lain karena income passive yang luar biasa.

Jika Anda sudah tidak remaja lagi, temukan motivasi lebih untuk menulis. Contoh penambahan CV pribadi agar lebih mentereng, atau ingin menenangkan pikiran, ingin membahagiakan istri dengan hadiah sebuah novel, biasanya yang demikian adalah motivasi paling tepat untuk menjadikan Anda berkarya dengan seajaib-ajaibnya gairah, dan nantinya tidak terasa bahwa karya tersebut sangat layak untuk diterbitkan.

Bahkan jika sudah renta pun, dan ingin belajar menulis agar bisa menghasilkan karya, ini sangat sah. Terkadang orang yang sudah tua ingin mengisi waktu luang, waktu pensiun. Mereka tidak memikirkan bagaimana membukukan, maka passion mereka berkembang luar biasa, dan ternyata setelah meninggal, sang anak menemukan karya orang tua mereka dan memang sangat layak untuk dibukukan. Toh, pahala dari pengetahuan yang diajarkan dalam buku tersebut terus mengalir pada penulisnya. Jangan lupa Hamka yang sudah lama meninggal, tapi bukunya terus dibaca sampai sekarang.

So, jangan takut untuk belajar menulis. Kapanpun, belajarlah menulis, karena bagi setiap orang, tulisan adalah jejak yang tidak terlupakan. Di Indonesia sendiri, orang terlihat berkelas ketika sudah punya karya yang dibukukan dan dinikmati banyak orang.