Benarkah Buku Musnah Menjelma Digital?

Benarkah Buku Musnah Menjelma Digital?

Setelah tersiar kabar edisi cetak Newsweek tutup karena tergeser edisi digital, maka semua yang berkutat pada dunia cetak mulai waspada. Maklum, Newsweek merupakan raksasa media cetak yang sudah berumur lebih dari 80 tahun. Lalu bagaimana dengan nasib buku? Apakah juga akan musnah?

Tidak bisa dimungkiri, adanya konten-konten digital membuat penjualan buku merosot drastis. Namun demikian ada beberapa hal yang menjadikan buku tetap tidak bisa tergantikan. Terutama pada kenyamanan dalam membacanya. Maka orang-orang yang suka membaca, tidak bisa berpindah dari dunia digital sepenuhnya. Oleh sebab itu toko-toko buku masih tetap bertahan.

Namun jangan terlalu pede terlebih dahulu. Dengan mudahnya orang mengakses bacaan melalui dunia digital, maka pembaca kemudian sangat selektif dalam membaca buku fisik. Oleh sebab itu buku dengan kualitas biasa akan sangat sulit diserap pasar, bahkan sedikit bagus tidak cukup. Harus cukup bagus dan enak untuk dibaca.

Fenomenanya adalah, setiap orang kini membaca dulu edisi digital sekilas, mungkin beberapa halaman. Jika kemudian benar-benar bagus, pembaca akan membeli edisi cetak untuk koleksi dan kepuasan pribadi. Penulis sendiri pernah mengalami hal demikian saat membaca 47 Ronin. Ada ketertarikan, kemudian pada akhirnya membeli edisi cetak meski sudah menonton filmnya.

Hal yang sama sebenarnya terjadi pada media lain selain buku, dunia musik. Memang semua orang mudah untuk mendownload. Namun ternyata bisnis kepingan hitam tidak hilang, atau habis. Justru ketika mendengarkan dan mendapatkan klik akan membeli piringan hitam tersebut.

Seperti yang dialami oleh David Karto seperti dikisahkan dalam Kompas, Jum’at, 23 Oktober 2015. Ia menceritakan bahwa justru di era digital ini piringan hitam menemukan pasarnya karena dipesan sampai ke luar Negeri. Uniknya, lagu-lagu yang dipasarkan justru yang jarang dikenal di layar kaca, tapi menurut David berkualitas luar biasa.

Titik penting terletak pada sisi kualitas. Jika setengah-setengah kualitasnya, lebih baik jangan dicetak, jika cukup bagus maka layak untuk dicetak. Penulis sendiri merasakan bahwa dunia buku masih tetap ada, bahkan mendapatkan pemesanan setiap bulan sekitar 50 eksemplar. Tergolong cukup untuk penulis Indie. Apalagi penerbit mayor, pasti jauh lebih banyak. Oleh sebab itu justru sekarang eranya menarik hati konsumen tanpa memandang penerbit dan penulis.
Metode Menulis Otodidak Iman Supriono

Metode Menulis Otodidak Iman Supriono

Iman Supriono adalah pakar manajemen yang tinggal di Surabaya. Biro konsultannya yang terkenal adalah SNF Consulting, namun beliau juga menulis banyak buku manajemen dan motivasi. Bukunya yang banyak terjual adalah Guru Goblok vs Murid Goblok. Namun demikian yang unik dari pria berbadan kurus ini adalah caranya belajar menulis secara otodidak.

Saya mendengarkan penjelasannya ketika menjadi moderator dalam Islamic Book Fair Surabaya 2014. Saya pribadi belum pernah mendengarkan metode menulis otodidak seperti yang dipaparkan Iman Supriono ketika itu.

Konsultan manajemen tersebut meyakini bahwa metodenya benar, meskipun bagi orang lain tidak masuk akal. Ini yang pertama di tanam dalam diri beliau. Selanjutnya yang dilakukan hanyalah mewajibkan diri untuk menulis setiap hari paling tidak satu halaman buku tulis, dan akan terus berkembang secara jumlah halaman setiap hari.

Hanya itu, ya. Tapi ini sangat sulit dilakukan. Kontinuitas yang berkepanjangan adalah hal paling melelahkan. Iman Supriono mewajibkan diri ini hampir empat tahun. Intinya menulis setiap hari, dalam hal apapun. Menulis tentang perempuan, tentang makan, keadaan perut lah, atau bahkan keadaan hati yang sedang tidak menentu. Yang terpenting nulis setiap hari tanpa berhenti.

Dasar dari metode ini adalah keyakinan bahwa menulis sebenarnya bukanlah teori, tapi praktek yang dilakukan terus menerus dan akan berkembang dari satu latihan ke latihan yang lain. Boleh dikatakan Iman Supriono seperti Ronaldinho atau Ronaldo yang berlatih sepakbola dari jalanan, tanpa akademi. Ya, Iman Supriono belajar menulis juga sendirian tanpa seorang guru.

Yang paling menimbulkan pertanyaan tentu saja bagaimana cara Iman Supriono mengetahui perkembangan tulisannya. Beliau membacanya kembali tulisan yang dibuat. Jika dirasa tulisan tersebut sudah cukup baik maka beliau baru berhenti dan memulai untuk menulis buku. Tentu saja bukan dengan penilaian asal-asalan, tapi juga membandingkannya dengan tulisan lain.

Uniknya, beliau baru mengatakan bahwa tulisannya dirasa sudah cukup baik justru setelah hampir empat tahun menulis setiap hari tanpa jeda. Ingat! Setiap hari tanpa jeda. Waktu yang panjang bukan? Padahal kelemahan banyak orang adalah memaksa diri untuk konsisten.


Hasilnya memang luar biasa, kini beliau memiliki lebih dari 7 buku yang sudah ditulis. Tergolong cukup banyak untuk penulis di Indonesia. Bagi yang ingin untuk mengikutinya, tentu saja harus memahami dua hal. Pertama, menanamkan keyakinan yang sangat tinggi dengan metode yang dijalani. Kedua, konsisten dengan hal yang sudah diyakini. Dari sini kesuksesan dalam menulis bukanlah hal yang mustahil.  
Fungsi Paragraf Komparasi atau Perbandingan

Fungsi Paragraf Komparasi atau Perbandingan

Dalam menulis ilmiah, atau bahkan artikel ringan yang populer, paragraf komparasi memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan deskripsi atau definisi. Paragraf komparasi artinya membandingkan antara satu hal dengan hal yang lain. Maka dari perbandingan ini akan didapatkan sebuah penjelasan.

Contoh: ketika mengatakan masjid di desa Ponolawen sangat megah dibandingkan dengan masjid Agung Pekalongan. Orang pasti akan mengira kemegahannya biasa. Namun demikian ketika perbandingan ini ditulis, masjid di desa Ponolawen sangat megah dibandingkan masjid Kubah Mas. Pasti pembaca dari tulisan ini terkesima, masjid Kubah Mas saja begitu megah, apalagi masjid Ponolawen.

Yang sering terjadi adalah, perbandingan yang ditulis cenderung tidak seimbang. Dalam arti jika ingin membandingkan dari sisi kelebihan sebuah sekolah, maka sekolah A harus dilihat dari segi kurikulum, sekolah B juga harus dilihat dari segi kurikulum. Bukan membandingkan dari sekolah A kurikulum, tapi sekolah B justru dilihat dari fasilitas. Ini paragraf komparasi atau perbandingan yang fatal. Bahkan penulisnya akan terlihat bodoh.

Belum lagi ketika membandingkan tiga hal di satu paragraf, jika belum memiliki kelihaian, maka pembaca akan sulit mencerna. Paragraf yang sedemikian pendek terlalu ribet jika dijadikan perbandingan lebih dari dua hal. Kalaupun memang ada tiga hal yang harus dibandingkan, maka yang ketiga lebih baik di paragraf selanjutnya.

Penulis juga harus punya seni dalam membandingkan dua hal yang dikomparasikan. Menjadikannya head to head, atau justru menjelaskannya terlebih dahulu secara tuntas, baru kemudian dibandingkan dengan yang lainnya. Ini tergantung bahan dan bagaimana gaya penulis dalam memaparkan.

Oleh sebab itu banyak tulisan justru ketika memasukkan sebuah perbandingan, tidak menjadikan penjelasannya semakin gamblang, namun justru membuat pembaca semakin pusing dan mengernyitkan dahi untuk benar-benar memahami maksud dari tulisan. Jika ingin kuat di tulisan non fiksi, maka paragraph komparatif atau paragraf perbandingan harus dikuatkan.

Ini Alasan Harga Buku di Indonesia Mahal

Ini Alasan Harga Buku di Indonesia Mahal

Orang Indonesia masih menganggap buku merupakan barang mewah, bukan kebutuhan sekunder, apalagi primer, masih dianggap tersier. Salah satu alasannya adalah harga buku yang tergolong mahal, meskipun sebenarnya jika dibandingkan dengan pulsa anggapan ini masih belum benar-benar betul. Namun demikian, ada banyak factor mengapa di Indonesia harga buku tergolong mahal.

Ongkos produksi buku cukup tinggi. Ini factor utama pendorong betapa mahalnya harga buku di Indonesia. Terutama harga kertas yang selalu ditentukan oleh nilai mata uang dolar Amerika. Padahal pohon di Indonesia banyak. Berapa nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar menjadi gambaran bahwa harga kertas mahal. Belum lagi tinta dan lain sebagainya. Dari sini harga buku terdongkrak naik.

Pajak tinggi untuk pelaku dunia perbukuan. Jangan dikira hanya percetakan saja yang memiliki kewajiban membayar pajak karena berbentuk perusahaan. Bahkan sampai penerbit, penulisnya, dan bukunya itu sendiri sudah terkena pajak. Akibatnya pembeli juga menanggung pajak karena ditambahkan dalam harga. Otomatis untuk mendapatkan sedikit selisih, harga buku kian dinaikkan.

Orang Indonesia gengsinya masih sangat tinggi. Apa hubungannya? Orang Indonesia tidak begitu suka buku dengan kertas murahan, cover ecek-ecek, bahkan tipis tebalnya kertas menjadi perhitungan. Buku dengan kemasan demikian meski isinya bagus, bagi orang Indonesia sangat tidak bermutu. Orang Indonesia memang banyak yang lebih suka bungkusnya daripada isinya, yaitu ilmu pengetahuan. Tentu saja untuk mencetak buku dengan kualitas demikian butuh biaya besar.

Dukungan pemerintah yang nihil. Pemerintah Indonesia memang memiliki keinginan agar kaya, bukan berkeinginan mencerdaskan masyarakatnya. Padahal kekayaan akan hadir seragam dengan kecerdasan dan kreativitas yang dimiliki. Masyarakat tidak didorong untuk membaca.

Tidak ada subsidi untuk buku seperti yang dilakukan di India yang menjadikan harga buku murah, daya baca masyarakat tinggi, dan keilmuan masyarakat meningkat. Padahal pada kisaran tahun 1955 pemerintah pernah melakukan subsidi untuk buku, yaitu dalam bentuk pemberian subsidi kepada bahan bakunya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Jangan bicara keilmuan di Indonesia. Hehehehe.

Akibatnya harga buku tergolong tinggi. Padahal dari harga buku yang sudah demikian tinggi, penulis masih belum sejahtera, bahkan jauh dari kata-kata sejahtera. Efek lebih buruk lagi, sdm dengan kualitas penulisan sangat baik tidak ada yang produktif menulis dalam hidupnya, lebih baik tenaganya disalurkan pada bidang lain.  Sehingga buku-buku berkualitas di Indonesia masih belum banyak.

Namun demikian bukan berarti pelaku dunia perbukuan pesimis. Banyak yang mencoba untuk menangani problem ini dengan penerbitan indie yang langsung dijual ke konsumen. Dengan cara demikian harga buku yang mahal mampu dipotong 20% dari harga buku umumnya. Misalkan harga buku di pasar 50.000, turun menjadi 40.000, bahkan bisa lebih rendah lagi. Tetap semangat!

Untuk Apa Menulis Jika Tidak Dibaca?

Untuk Apa Menulis Jika Tidak Dibaca?

Saya mendapatkan pertanyaan ini ketika mengisi acara bedah buku “Resep Ajaib Menulis Novel”. Pertanyaan ini seolah menyatakan bahwa ketika kita menulis dan tahu bahwa nantinya tulisan kita tidak banyak orang untuk membaca, maka untuk apa kita menulis?

Coba kita perhatikan apa yang dilakukan perempuan ketika mereka menulis. Ya, perempuan ketika menulis tidak pernah berpikir untuk dibaca banyak orang tulisannya, bahkan seringkali menyembunyikan hasil tulisannya dalam sebuah agenda yang tertutup dan dikunci dengan gembok yang sedemikian rupa. Lalu untuk apa mereka menulis?

Menulis menjadi sebuah media untuk mengeluarkan gejolak gelisah yang ada di dalam hati kita. Tulisan memang sebuah sarana paling ampuh untuk mengeluarkan segala amarah, sedih, bahkan rasa bahagia, banyak ungkapan yang tidak bisa diucapkan, mampu untuk ditulis dan membuat isi hati menjadi lega kemudian.

Menulis memiliki sisi lain sebagai terapi untuk hati yang gundah gulana. Anda pasti tahu curhat dengan bercerita ke teman menjadikan hati yang tadinya sesak menjadi terasa plong kemudian. Begitu juga dengan menulis. Ajaibnya, ketika curhatan tersebut tertata, dan kemudian enak dibaca, justru banyak orang yang ingin menikmati hasil karya Anda. Catatan Hati Seorang Istri adalah salah satu contohnya.

Isi dari buku tersebut adalah cerita-cerita dramatis dalam bentuk curahan hati oleh sosok perempuan. Asma Nadia mengemasnya dengan manis, dan menyajikannya menjadi sebuah buku yang selanjutnya justru menjadi cermin bagi para perempuan yang merasakan hal yang sejenis.

Maka Anda tetap harus menulis meski tahu tidak banyak yang akan membaca, karena bisa jadi justru dengan menulis hati Anda tenang dan nyaman dalam menghadapi setiap persoalan.

Ciri-ciri Paragraf Yang Baik dan Benar

Ciri-ciri Paragraf Yang Baik dan Benar

Paragraf yang baik dan benar menjadi salah satu syarat utama dalam penulisan non fiksi yang bagus. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa paragraf yang baik akan menjadikan satu kesatuan juga baik. Ibarat rumah, jika setiap elemen-elemennya bagus, maka rumah tersebut terlihat bagus. Oleh sebab itu harus diperhatikan apa ciri-ciri yang menjadikan paragraf tersebut baik dan benar.

Pertama, paragraf harus memiliki sebuah ide pokok yang sesuai dengan ide pokok yang ada dalam keseluruhan tulisan. Contoh, jika judul tulisan yang dibuat adalah “Memaknai Kecantikan Gadis Desa” maka sekiranya salah satu paragraf memiliki ide pokok “Gadis desa seringkali pergi ke Jakarta setelah lulus dari sekolah menengah pertama”. Maka sudah dapat dipastikan paragraf ini tidak benar.

Kedua, memiliki satu buah kalimat topik dan penjelas dari kalimat topik tersebut. Kalimat topik memang berfungsi menjadi pengikat adanya satu ide besar dalam sebuah paragraf. Namun tanpa adanya kalimat penjelas dari kalimat topik tersebut, maka ide besar dalam sebuah paragraf akan sulit dipahami.

Ketiga, memiliki satu kesatuan makna yang utuh. Ciri-ciri paragraf yang baik nomor tiga ini merupakan penunjang nomor dua. Ya, antara kalimat topik dan penjelas harus memiliki satu kesatuan, sekiranya kalimat topik menyatakan ciri-ciri laki-laki tampan, maka kalimat penjelas paling tidak menyatakan “Kulit yang bersih dan putih menjadi ciri-ciri yang seringkali diutamakan oleh orang desa”, maka ini jelas-jelas tidak utuh satu kesatuan ide.

Keempat, disusun secara logis dan sistematis. Inilah faktor kunci dalam menulis sebuah paragraf. Kelogisan ide akan sangat menunjang kebagusan sebuah paragraf. Contoh, jika mendung, maka pertanda akan turun hujan.

Sedangkan sistematis merupakan unsur utama agar pembaca dapat memahami dengan mudah tulisan. Terutama unsur urutan kejadian, urutan sebab akibat, atau bahkan penjelasan sebuah proses harus disusun dengan sistematis. Jika beberapa unsur ini dipenuhi, akan dapat dipastikan tulisan terasa enak dibaca dan mudah dipahami oleh pembacanya
Pentingnya Gaya dalam Tulisan

Pentingnya Gaya dalam Tulisan

rudicahyo.com
Pernahkah Anda membaca tulisan kolom Gunawan Muhammad? Bisakah Anda membedakan dengan kolom Ahmad Thohari? Atau, Habiburrahman dengan Andrea Hirata, bisakah Anda membedakannya? Pasti setiap penulis memiliki gaya masing-masing. Namun seberapa penting sebenarnya gaya tulisan? Bagaimana cara untuk memilikinya?

Gaya dalam tulisan bisa dilihat dari beragam sisi kekhasan. Bisa dari penyusunan kalimat, leading tulisan, bisa juga dari gaya penuturan semisal selalu menggunakan tamsil dari kejadian-kejadian sejarah bangsa Jawa, bisa juga dari pemilihan diksi yang pas, kesatuan inilah yang nantinya membentuk sebuah gaya dalam tulisan.

Yang harus digarisbawahi sebenarnya adalah, tidak semua penulis akan memiliki ciri khas, kecuali jika sudah benar-benar matang dalam menulis. Dalam arti, tulisan yang benar-benar khas didapat dari keseringan menulis itu sendiri, sehingga membentuk satu gaya tulisan yang benar-benar unik.

Sedangkan orang yang baru belajar menulis, seringnya ia masih mencari bentuk tulisan yang baku untuk dirinya sendiri. Logikanya, kebagusan tulisan saja belum didapat, sudah pengin mencari bentuk. Atau dewasa saja belum, sudah pengin ganteng. Hal yang agak sulit.

Bentuk tulisan akan didapatkan setelah penulis fasih menulis dengan satu jenis tulisan tersendiri. Contoh, penulis sudah sangat sering menulis opini, maka tulisannya akan terlihat bergaya opini. Contoh lain, penulis sudah sangat sering menulis novel, maka tulisannya memiliki gaya bahasa yang khas seperti novel.

Penulis yang memiliki metode menulis berpindah dari satu jenis ke jenis yang lain, akan sangat sulit mendapatkan bentuk tulisan yang khas. Baru belajar menulis cerpen langsung berpindah menulis opini. Baru belajar menulis resensi, langsung berpindah ke sisi puisi. Cara seperti ini akan sangat sulit memili gaya khas dalam tulisan.

Memang ketika ada sebuah tulisan, kemudian memiliki gaya yang khas akan menjadi nilai sangat lebih bagi penulis itu sendiri. Efeknya, pembaca akan lebih mencintai penulis karena menurutnya memiliki tulisan yang berbeda dari penulis lainnya.

Teknik paling mendasar tentu saja dengan meniru salah satu penulis ternama yang memiliki gaya sangat khas. Tiru kemudian tulis, tiru kemudian tulis hingga gaya yang dimiliki benar-benar matang. Makan pembaca akan menyimpulkan bahwa tulisan Anda mirip dengan penulis A, B, atau C.

Paling sulit memang menemukan gaya sendiri. Sangat tidak mudah untuk menemukan diferensiasi tulisan dibandingkan yang lainnya. Terlebih gaya dalam tulisan tidak banyak orang yang mampu membedakan. Apalagi hanya pembaca biasa yang hanya satu dua kali membaca dalam satu tahun.

Kesimpulannya, lebih baik penulis terus menekuni satu jenis penulisan sampai benar-benar matang. Secara garis besar hanya ada dua kiblat penulisan, fiksi dan non fiksi. Maka pilihlah salah satu kiblat tersebut hingga tulisan Anda benar-benar handal di dalamnya. Gaya, akan Anda temukan dengan sendirinya.
Jenjang Karir Penulis di Indonesia

Jenjang Karir Penulis di Indonesia

kaskus.co.id
Mungkin royalti bagi penulis Indonesia tergolong kecil, penulis-penulis opini di koran tidak seramai sebelum ada dunia digital dari sisi penghargaan, penulis-penulis cerpen sudah tidak memiliki banyak tempat di media cetak, tapi penulis di Indonesia dengan gagah berani tidak pernah mundur, mereka terus menulis. Tahukah Anda mengapa? Ya, ada jenjang karir pasti dari seorang penulis yang banyak tidak diketahui oleh orang banyak.

Tahap awal, biasanya penulis memiliki masa pengenalan. Caranya bisa dengan mengeluarkan sebuah buku, dan dijual di pasar. Sayangnya, banyak yang mementingkan yang penting menerbitkan buku, jelek bagus yang penting diterbitkan. Padahal hukum penulis adalah pembaca. Jika tidak dikenal pembaca bukan penulis namanya. Dan pembaca sangat memperhatikan kualitas. Jika jelek, tidak akan dibaca. Ini yang menjadikan tahap pengenalan sebagai penulis gagal.

Contohlah semacam akademisi yang memiliki tahap awal pengenalan mereka dengan pendampingan menulis dari senior. Misalkan, menulis bersama profesor, sedangkan akademisi tersebut masih bergelar master. Ini memang teknik untuk menaikkan nama penulis. Baru kemudian menulis secara mandiri.

Penulis non fiksi bisa menggunakan teknik ini. Bahkan jika perlu penulis ternama tersebut hanya menulis kata pengantar saja, itu sudah biasa. Jangan heran jika sering menemukan nama penulis lebih kecil dari nama pemberi kata pengantar. Itu karena namanya belum dikenal.

Tahap pengenalan dalam dunia menulis tidak berlangsung hanya dengan satu buku, bisa sampai tiga buku, kecuali buku pertama langsung dinikmati oleh banyak pembaca. Ingat sisi kualitas harus diperhatikan jika memang ingin benar-benar dikenal menjadi penulis handal.

Satu syarat lagi, buku tersebut disebarkan untuk bisa dinikmati pembaca. Hal ini mengingat di zaman print on demand seperti sekarang, banyak penulis yang sudah melahirkan sampai 20 buku, tapi ternyata tidak banyak dikenal pembaca. Ini memang risiko print on demand, karena setiap buku hanya dicetak tidak lebih dari 100, bahkan kadang hanya 5 atau 10 eksemplar.

Pada tahapan pengenalan, penulis banyak yang mengalami kegagalan, berguguran secara alami. Buku pertama tidak laku menyerah, buku kedua tidak laku, patah semangat. Inilah yang terkadang membuat seleksi alam di dunia penulis sangat ketat. Padahal, jika pembaca sudah klik dengan salah satu buku kita, ribuan pembaca akan menanti hasil karya kita selanjutnya. Jangan salah, banyak penulis yang sudah melahirkan sampai 5 buku, namanya masih belum cukup akrab di telinga pembaca, terlebih penduduk Indonesia sangat besar.

Tahap selanjutnya adalah kemapanan. Dalam arti, penulis sudah nancap di hati pembaca, Habiburrahman sudah dikenal sebagai penulis novel religi, Asma Nadia penulis yang mendekati hati wanita, dsb. Mereka lahir dengan kemapanan karena fokus pada satu sisi saja. Fokus di novel, fokus di remaja dengan banyak genre, fokus di wanita, dsb. Hal ini yang sering dilupakan oleh penulis yang belum mapan. Mereka terkadang menggarap remaja, orang tua, anak-anak, cinta, motivasi. Pembaca akhirnya bingung kemampuan penulis sebenarnya dalam bidang apa.

Tahap ketiga adalah diundang. Ya, jika anda sudah mencapai tahap kemapanan dimana orang mengenal sebagai penulis cinta wanita, maka ada saja orang yang mengundang untuk mengisi acara, entah motivasi perempuan, ceramah, dll. Pada tahap ini waktu untuk menulis semakin berkurang. Boleh dikatakan hanya 50% dari waktu untuk menulis yang dimiliki sebelumnya.

Tahap akhir adalah pengamat dan pembicara. Pada tahap ketiga publik akan melihat kualitas komunikasi penulis lewat dunia verbal. Jika bagus, Anda akan nyaman berada pada taraf pembiaca sebuah acara. Pada sisi tulis menulis Anda akan menjadi pengamat, mentor, editor, dll. Semacam Ahmad Dhani yang menjadi komentator penyanyi.

Tahap puncak ini, Anda hanya memiliki rasa rindu pada menulis, sesekali meluangkan waktu saja. Tuntutan Anda menjadi pembimbing junior lebih ditunggu. Dari satu tempat ke tempat lain berpindah. Dari satu majlis ke majlis lain berpindah. Karya Anda yang dulu terus dinikmati banyak orang, penulisnya juga lebih dinanti oleh lebih banyak orang.

Selamat menulis, menulis itu selalu indah bagi yang menikmati.
Mengatasi Sulitnya Memulai Tulisan

Mengatasi Sulitnya Memulai Tulisan

widivici.com
Kesulitan mengawali tulisan adalah persoalan paling klasik yang dimiliki oleh penulis sejak penulis tersebut belajar, atau bahkan memutuskan menjadi penulis. Pertanyaan ini juga paling sering saya temui ketika mengisi di pelatihan dan seminar-seminar. Lalu bagaimana mengatasinya?
Perlu diketahui, persoalan seperti ini sebenarnya tidak hanya hadir pada penulis pemula yang belum pernah dipublikasikan tulisannya, namun juga para penulis senior yang sudah malang melintang menulis di beragam buku dan media masa.
Bagi penulis pemula jika mengalami kendala ini, lebih baik baca buku, kemudian apa yang didapatkan dari buku tersebut menjadi paragraf pertama dari sebuah badan tulisan. Contoh, saya ingin menulis tentang perempuan, maka saya membaca buku Quraish Shihab yang berjudul perempuan. Saya akan menulis, “Dalam buku perempuan karya Quraish Shihab, kecantikan memiliki ukuran yang berbeda-beda tergantung adat dan budaya.”
Teknik ini tidak hanya akan menjadikan Anda bisa memulai sebuah tulisan, tapi juga membuat tulisan Anda menjadi berkelas karena terlihat penulis membaca banyak literatur tentang topik yang ditulisnya.
Jika Anda masih belum mampu mengatasi kebuntuan dengan model seperti ini. Maka comot satu paragraf dalam buku yang dibaca untuk dijadikan paragraf pertama. Wait, berarti copas donk. Ya, ini adalah teknik paling mendasar. Namun jangan dibiarkan ketika tulisan tersebut sudah selesai. Paragraf pertama hapus, ganti dengan tulisan yang ada dalam paragraf-paragraf yang Anda punya setelahnya. Percayalah, paragraf pertama yang Anda buat pertama kali, biasanya hanya sampah (meski tidak semua).
Ya, paragraf yang pertama dibuat biasanya memang sampah. Dengan teknik membuang sampah inilah yang biasanya dilakukan oleh penulis mahir. Mereka menulis terlebih dahulu seluruh badan tulisan untuk menelurkan ide yang ada di kepala. Selanjutnya, paragraf pertama dibuang dan diganti agar lebih kohesi, atau memodifikasinya sedemikian rupa sehingga tulisannya menjadi baik.
Prinsipnya, penulis adalah seniman, seniman. Seorang seniman memiliki feeling luar biasa akan hasil tulisannya. Anda bisa melihat seorang pematung, sudah berbentuk batu yang dibuat patung, namun dia belum berhenti, menghaluskan dengan pahatan kecil agar terlihat sempurna.
Bagaimana jika feeling kita akan tulisan masih belum tajam? Di sinilah fungsi editor, korektor, teman, atau semacamnya. Jangan menyerah untuk menulis.
Masa Depan Penulis

Masa Depan Penulis

rudicahyo.com
Di Indonesia pekerjaan menjadi penulis tidak segemerlap pekerjaan menjanjikan lainnya. Bahkan di mata masyarakat, penulis tidak dianggap pekerjaan karena seringkali masyarakat masih awam dengan bidang garapan penulis, atau karena pendapatan penulis yang tidak tetap, bahkan cenderung pas-pasan. Tapi apa benar demikian? 

Kalau menjadi penulis hanya sebatas mengandalkan royalti dari penerbit, memang akan sangat tipis. Kecuali jika penulis mapan, dalam arti mampu memproduksi banyak buku best seller, tapi ini sangat sedikit sekali. Menciptakan satu buku best seller saja tidak mudah, apalagi banyak. Bayangkan royalti dari buku paling banyak hanya 12% dari jumlah buku yang terjual. Itupun cenderung lama dibayarkan. Belum lagi kekhawatiran bahwa buku akan hilang digantikan konten digital.

Namun demikian justru ini kesempatan paling bagus bagi Anda para calon penulis. Sekarang ada dua pasar di Indonesia untuk menikmati buku. Pertama, buku dalam bentuk fisik yang konon akan hangus digantikan ebook. Menurut saya pribadi, meskipun memang menyusut, tapi buku tidak akan hilang. Seperti layaknya radio yang dianggap akan hilang ketika televisi datang. Tapi nyatanya tidak. Belum lagi orang indonesia yang belum familiar dengan cara membeli buku di Android. Buku akan terus ada.

Kedua, buku dalam bentuk elektronik memiliki efek samping positif bagi penulis, kebebasan menerbitkan. Ya, penulis bisa dengan mudah menerbitkan tanpa harus proses ke penerbit dan lain sebagainya. Bagi hasil dengan toko online dari harga buku, selesai. Ini sangat mudah sekali.

Dunia digital juga sebenarnya menjadikan penulis sebagai pusat perhatian? Maksudnya, tidak ada website top, status facebook bagus, twit keren tanpa penulis yang bagus. Pernahkah Anda membayangkan bagaimana tokoh nasional sibuk dengan facebooknya? Tentu tidak, ada penulis handal yang membuat status-status ajaib menyihir pembacanya. Inilah lahan penulis.

Konten digital di website juga menjadikan tulisan adalah raja untuk menarik pengunjung. Pernahkah berpikir bahwa website tanpa tulisan yang bagus? Tidak mungkin dikunjungi banyak orang. Jika ada yang mengatakan yang penting adalah SEO (Optimasi Mesin Pencari) website, ini adalah salah besar. Sekuat apapun SEO website, tanpa tulisan bagus hanya buang-buang waktu dan uang. Detik.com mengupload lebih dari 1000 tulisan perhari. SEO penting, tapi tulisan jauh lebih penting. Maka penulis juga sangat dibutuhkan.

Belum lagi semakin berkurangnya jumlah penulis yang berkualitas karena semangat membaca yang rendah dan lebih sibuk di lahan-lahan berpesanan semacam whatsapp, bbm, dan beragam media sosial. Kasus ini menjadikan penulis bagus sangat sulit dicari. 

Terlebih jika Anda sudah menjadi penulis mapan (karya), sudah memiliki karya yang nancap di hati pembaca. Perlahan nama Anda semakin dikenal, dicintai pembaca, diundang untuk didengar penjelasan tentang karya tersebut, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Ingat, di Indonesia gengsi pembicara jauh lebih tinggi dari penulis. Mau bukti? Besar mana honor berbicara satu jam dengan nulis satu artikel yang kadang habis waktu seharian? Hehehehe.

Memang tidak banyak yang mampu tekun menjalani pekerjaan ini, karena proses segala sesuatu tidak mungkin cepat, namun keunikan penulis adalah, pekerjaan di masa lalu bisa memberikan Anda uang di masa sekarang dan masa mendatang, itulah royalti penulis, dan karya yang akan terus mengharumkan namanya. Sayangnya tidak banyak penulis yang menguasai beragam jenis tulisan. Hanya artikel, hanya fiksi, hanya puisi (akan dijelaskan kemudian). Padahal ketika menguasai banyak macam tulisan, akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa pada diri penulis.
Kelebihan Belajar Menulis Otodidak

Kelebihan Belajar Menulis Otodidak

rudicahyo.com
Belajar otodidak dalam bidang apapun memiliki seni tersendiri, begitu pula dengan menulis. Seni untuk belajar menulis secara otodidak bergantung dari dorongan kuat yang dimiliki pembelajar itu sendiri. Tanpa gairah tinggi, pembelajar otodidak hanya membuang waktu, karena memang belajar menulis secara otodidak akan memakan waktu lebih lama. Namun demikian ada beberapa kelebihan yang banyak orang tidak mengetahui.

Pertama, memiliki langgam gaya imitasi. Belajar otodidak dalam menulis berbeda dengan orang yang memang hobi menulis. Belajar otodidak dalam menulis lebih sering dengan dua pola. Pertama, meniru tulisan-tulisan dari penulis terkenal. Kedua, membaca buku panduan menulis. Seringnya keberhasilan calon penulis lebih kepada pola yang pertama karena jauh lebih mudah daripada memahami teori-teori yang sulit dipraktekkan.

Oleh sebab itu seringnya pembelajar otodidak dalam menulis memiliki kelebihan dalam gaya tulisan yang mirip dengan penulis terkenal yang ditirunya meskipun tidak benar-benar orisinil. Dengan cara demikian tulisan tersebut memiliki kebagusan yang spesial karena sangat jarang yang mampu memiliki kemiripan dalam hal gaya tulisan.

Kedua, gairah tinggi. Salah satu kelebihan pembelajar otodidak adalah gairah yang begitu tinggi dalam belajar. Ini tidak dimiliki oleh para calon penulis yang belajar dari guru. Hal ini mengingat jika belajar otodidak, tidak ada tahapan-tahapan pasti dalam tingkat kesulitan seperti yang biasanya seorang guru berikan hingga membuat murid kewalahan.

Ketiga, menikmati proses belajar. Ya, bagi calon penulis yang sedang belajar sendiri, dia tidak akan menikmati kesulitan-kesulitan kecuali kebosanan penulis itu sendiri. Calon penulis tidak akan menemukan kesulitan yang benar-benar berarti. Yang pasti ia hanya menulis dan menulis saja sampai pada tingkat di mana calon penulis tersebut merasa cukup.

Namun demikian yang sering dilupakan oleh calon penulis yang belajar otodidak adalah mengukur kemampuannya sendiri. Apakah ia sudah pada tahap tertentu, atau sebenarnya masih harus terus belajar. Caranya hanya satu, mintakan komentar dari penulis-penulis yang sudah mapan, dari situ tulisan akan dapat dinilai baik buruknya. Atau dari orang yang biasa membaca tulisan, biasanya orang tersebut sangat bisa untuk memberi komentar. Terimalah dengan lapang dada, komentar tersebut akan memperbaiki kualitas tulisan Anda.
Kelebihan Belajar Menulis Bersama Pengajar

Kelebihan Belajar Menulis Bersama Pengajar

tipsanakbayi.com
Penulis matang lebih banyak lahir dari hobi dan ketekunan pribadi, itu memang benar. Namun demikian, penulis juga banyak terlahir dari sebuah didikan mentor atau guru yang handal. Dikoreksi, ditingkatkan, dikoreksi, ditingkatkan, sampai kemudian pada taraf diterbitkan. Oleh sebab itu berikut kami hadirkan beberapa kelebihan belajar menulis bersama pengajar.

Yang pasti akan didapatkan dari guru adalah petunjuk jalan dan bagaimana cara melaluinya. Ini pembelajaran menulis yang tidak bisa ditemukan di lain tempat atau kesempatan. Oleh sebab itu pembelajaran akan cenderung terarah dan lebih cepat untuk mencapai tujuan. Jangan heran jika ada yang mengatakan dua bulan cukup untuk bisa menulis.

Kedua, tahapan-tahapan peningkatan kualitas akan terstruktur baik. Anda sebagai pembelajar akan merasakan peningkatan kemampuan menulis yang bertahap, namun pasti. Efeknya Anda akan menyadari sejauh mana kemajuan yang sudah dimiliki.

Ketiga, mendapatkan korektor dari tulisan yang dibuat. Salah satu kesulitan penulis pemula adalah menemukan teman korektor yang handal. Guru menulis memiliki peran tersebut. Bagaimanapun teori yahud yang dimiliki, jika tidak ada korektor, maka tulisan Anda serasa baik namun tanpa ada peningkatan.

Keempat, pada tahap awal, identifikasi keahlian menulis sudah bisa dilakukan. Maksudnya bukan mengidentifikasi bahwa Anda bisa menulis atau tidak, bukan. Namun jenis tulisan apa yang sebenarnya bisa difokuskan pada pembelajaran Anda. Fiksi, non fiksi, opini, cerpen, novel, atau sebatas artikel. Boleh dikatakan Anda sangat beruntung sebagai murid.

Kelima, akan mendapatkan arahan publikasi tulisan. Ini yang seringkali dibingungkan penulis pemula, diterbitkan di mana tulisan saya? Padahal sudah pantas atau tidak penerbitan naskah tersebut masih harus diuji. Jika memiliki guru, maka Anda akan mendapatkan rekomendasi bahwa tulisan tersebut layak untuk dipublikasikan, sekaligus mendapatkan tempat yang tepat di mana tulisan tersebut pantas untuk dipublikasikan. 

Saran saya pribadi, bagaimanapun tekunnya belajar menulis, baik sudah menjadi hobi, atau belajar otodidak, lebih baik temukan ahli dalam bidang penulisan untuk mengetahui seberapa pantas tulisan untuk dipublikasikan dan mendapatkan masukan atas kekurangan-kekurangan dalam tulisan tersebut. Meskipun bukan guru khusus, paling tidak memiliki teman yang menyukai bidang kepenulisan.
Kesalahan Mendasar Penulis Pemula

Kesalahan Mendasar Penulis Pemula

adhis.web.id
Bagaimana saya harus mengawali menulis? Ini adalah pertanyaan paling medasar bagi para calon penulis. Sayangnya tidak ada jawaban yang benar-benar kongkrit untuk menjawab pertanyaan ini selain hanya menulis dan menulis. Namun demikian, memang ada beberapa kesalahan mendasar para penulis dalam belajar.

Pertama, terlalu berpikir harus menulis sesuatu yang fenomenal, yang wow. Tunggu dulu, menulis sangat mirip dengan berbicara, yang perlu dilakukan adalah Anda bisa berbicara terlebih dahulu dengan lama, bukan apa yang dibicarakan. Pasti sering menemukan orang berbicara lima menit saja tidak bisa, meskipun hanya bercerita tentang pengalamannya tidur.

Ya, yang perlu dilakukan adalah Anda terbiasa menulis dengan sesuatu yang sederhana. Menulis tentang pengalaman Anda ke wc, atau ketemu gadis, atau belajar bersama di kelas, atau bahkan menangkap pencuri. Tulislah sesuatu yang paling mudah yang ada di kepala Anda sehingga memudahkan untuk menulisnya.

Biasanya ada yang menganggap, ah tidak berkelas. Tunggu dulu, ide yang bagus jika ditulis dengan tulisan yang juelek, maka hanya menghasilkan coklat seharga lima ratusan. Tapi ide yang bagus jika ditulis dengan tulisan yang bagus, maka akan menghasilkan coklat silverquen yang seharga puluhan ribu. Padahal bahan dasarnya sama-sama coklat. Maka Anda harus pandai menulis terlebih dahulu, ciri-cirinya, apa yang ada di kepala Anda sudah tertuang 80% dalam tulisan.

Kedua, gengsi meniru tulisan orang lain. Teknik meniru, dalam bidang apapun adalah teknik paling mendasar yang paling mudah dilakukan setiap orang. Anak ingin belajar pidato, maka akan banyak-banyak mendengar pidato Zaenuddin MZ. Begitu juga dengan menulis, jangan malu untuk meniru, bagaimanapun penulis yang sudah mapan jauh lebih baik dari yang masih belajar, dari gaya, kehalusan bahasa, bahkan sampai penyampaian ide, mereka lebih mapan.

Ketiga, ingin cepat jadi penulis. Tunggu, hampir tidak ada suatu keahlian dapat diraih dengan cepat. Semua keahlian mengalami proses, entah satu bulan, dua bulan, tiga bulan, bahkan tiga tahun. Proses yang seperti ini terkadang memang membosankan, namun justru karena itu ahli dalam suatu bidang tidak banyak, termasuk menulis.

Keempat, ingin cepat dapat uang. Hehehe, memang ini wajar menjadi motivasi setiap orang. Tapi tidak mungkin secepat yang dibayangkan. Secara khusus nantinya akan dibahas tentang menulis dan uang. Uang datang pada Anda ketika tulisan benar-benar ajib untuk dibaca. Dagang saja yang jelas bermodal uang tidak langsung datang untung, apalagi menulis. Ingat, jika ingin tulisan dijual maka harus berkaca, apakah tulisan saya sudah mirip dari yang ada di koran, buku, atau majalah?

Kelima, malas berlatih. Menulis sebenarnya hanyalah sebuah pembiasaan. Semakin banyak dan sering menulis, maka tulisan dengan sendirinya akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Sayangnya, jika sudah jarang menulis, maka taste dari tulisan kita akan hilang. Apalagi yang masih awal dan malas untuk berlatih, sama saja hanya berangan-angan. Paling tidak setiap dua hari sekali menyempatkan diri menulis setengah halaman.

Keenam, tidak mau ditunjukkan kepada orang. Nah, ini paling aneh. Ingat yang disebut penulis adalah yang tulisannya banyak dibaca orang. Bagaimana jika banyak menulis tapi disimpan sendiri? Apakah orang yang suka ngomong sendiri disebut orator? Nah ini jawabannya.

Biasanya faktor yang keempat ini karena malu tulisannya jelek. Lho, kan orang belum baca, bagaimana tahu tulisan tersebut jelek. Atau malu kalau nanti dicaci karena ide dalam tulisannya. Padahal hampir semua penulis memiliki risiko dipuji juga dicaci karena tulisan tersebut. Justru pembaca adalah alat asah, baik menajamkan tulisan, atau membuat tulisan menjadi jauh lebih indah.

So, diharapkan jangan melakukan ini ya. Hehehe...
Cara Paling Mudah Pintar Menulis

Cara Paling Mudah Pintar Menulis

rudicahyo.com
Keluhan betapa sulitnya menulis sering didapatkan dari beberapa orang yang pertama kali belajar menulis. Kehabisan kata lah, kehabisan ide lah, atau bahkan mati gaya karena tulisannya tidak jelas mengarah ke mana. Namun demikian sebenarnya ada satu teknik dasar agar orang kemudian mahir menulis.

Cara agar cepat pintar menulis sebenarnya adalah tiru tulisan seseorang. Ya, meniru atau dengan kata lain menjiplak. Tapi ingat, ini hanya untuk latihan. Meniru adalah cara paling mudah dalam melakukan segala sesuatu, termasuk menulis. Sayangnya banyak orang yang meremehkan karena gengsi dan semacamnya.

Tahapan pertama jika ingin melakukan hal ini adalah, Anda harus memiliki tokoh favorit, atau buku favorit. Silahkan dipilih. Tulisan di buku atau dari tokoh tersebut nantinya dibaca berulang-ulang sampai seakan-akan hapal dengan benar-benar setiap kata yang ada dalam buku tersebut.

Selanjutnya, tulis apa yang Anda ingat dari hasil bacaan tersebut satu halaman saja, entah dengan pena atau dengan laptop. Namun ketika ada satu penggal kata, atau bahkan satu kalimat yang lupa, Anda tidak boleh membuka tulisan yang Anda baca sebelumnya. Saat inilah Anda mulai berkreasi untuk menumbuhkan kata-kata, kalimat-kalimat yang dimiliki sendiri dari dalam diri Anda.

Ketika sudah terbiasa, lanjutkan dengan Anda membaca sebuah buku namun tidak berulang-ulang, yang awalnya mungkin butuh lima kali, cukup tiga kali. Kemudian hasil bacaan tersebut tuangkan dalam tulisan, bisa satu halaman atau bahkan setengah halaman, tidak masalah, dan jangan berkecil hati. Pada taraf ini Anda sudah bisa mengungkapkan ide dengan kata-kata sendiri. Nilainya adalah kesamaan antara ide dalam tulisan Anda dan yang ada dalam buku yang dibaca. Pada tahap ini jangan memperhatikan indah tidaknya tulisan Anda. Lakukan ini terus menerus.

Jika hal tersebut sudah mampu, Anda kemudian mencoba untuk membaca dua buku, baru dirangkum atau dikombinasikan ide dari dua buku tersebut. Pekerjaan ini tergolong tahap yang lebih tinggi, terutama dalam membandingkan sebuah ide, atau bahkan menyatukan dua ide yang benar-benar sepadan. Jika sudah mampu melaksanakannya, Anda tinggal memperkaya bacaan, maka tulisan Anda semakin bernutrisi.

Teknik ini berlaku bagi Anda yang gemar menulis fiksi maupun non fiksi. Jika fiksi maka perhatikan bagaimana penulis merangkai kata dan mendeskripsikan tempat dan suasana. Pada fiksi novel yang sering dibaca akan sangat mempengaruhi gaya penulisan. Lebih baik pilih novel yang benar-benar bagus, baik dari sisi kata, cerita, maupun penokohan.

Apakah teknik ini cepat? Jawabannya adalah tidak. Menulis lebih cepat jika ada guru yang membimbing, karena akan memberitahu tahapan-tahapan disertai koreksian. Pada teknik ini Anda tidak akan mengalami koreksian. Namun demikian teknik ini merupakan teknik yang paling enjoy untuk dilakukan karena mandiri, dan paling mudah untuk dikerjakan. Siapapun bisa dan nyaman untuk melakukan.

Mengasah Hobi Menjadi Ahli

Mengasah Hobi Menjadi Ahli

mklop.com
Tidak semua orang yang memiliki hobi menekuninya. Ya, semua orang pasti memiliki hobi, entah dalam dunia musik, dalam dunia lukis-melukis, atau bahkan dalam dunia tulis menulis. Biasanya hampir semua orang hanya menganggap hobi tersebut sebagai lalu lintas hiburan biasa dalam hidupnya.  Inilah yang menjadikan hobi seperti tidak berarti.

Padahal, hampir semua orang ahli dalam bidang tertentu berawal dari penekunannya terhadap hobi yang dimiliki. Saya sendiri dari kecil memiliki hobi menulis meskipun tahu jenis-jenis dan teori-teori menulis cerita, artikel dan tetek bengek lainnya. Namun saya terlanjur hobi menulis.
Orang yang hobi pada bidang tertentu sudah pasti memiliki kelebihan dibanding orang yang baru menginginkan untuk menekuni pada bidang tertentu. Ibaratnya, orang yang sudah hobi sudah menemukan jati dirinya, sudah tahu bahwa dirinya adalah pedang, tinggal diasah terus hingga tajam, baru digunakan untuk menebas.

Sedangkan orang yang tidak memiliki hobi namun ingin menekuni sesuatu ibarat sebuah besi yang belum terbentuk. Ia butuh waktu lebih untuk mengubah besi tersebut menjadi sesuatu yang diinginkan. Tapi orang yang tidak memiliki hobi dan ingin menekuni sesuatu biasanya memiliki etos kerja keras yang tinggi, ini yang kemudian menjadikan orang tersebut memiliki kemampuan lebih dari orang yang bermodal bakat.

Tanda-tanda seseorang memiliki hobi adalah melakukan sesuatu lebih sering dari kegiatan lain tanpa perlu disuruh atau diminta. Terutama pada saat-saat mengisi waktu kosong. Yang lain menonton televisi, dia asik membaca dan menulis, ini berarti sudah terlanjur cinta sama kebiasaan ini. Tidak perlu disuruh dia melakukannya.

Sayangnya banyak yang tidak mempercayai bahwa hobi tersebut jika ditekuni akan menghasilkan sesuatu yang lebih, mungkin uang, kemapanan, dan beragam macam hal. Ini karena orang tersebut tidak mengetahui jalan untuk terus menekuni hobinya, bisa jadi karena tidak ada dukungan terhadap hobi tersebut dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ingat, filosofi hobi yang diasah terus ibarat pisau atau pedang. Tapi jika tidak menebas, tidak akan membahayakan, begitu juga hobi. Tidak dilatih, tidak diasah, tidak diayunkan untuk menebas sesuatu yang tepat, maka hobi tersebut hanya akan menghasilkan “bakat terpendam”.

Padahal jika diteliti lebih dalam, orang yang bekerja dalam hobinya akan merasa seperti bermain dalam bidangnya. Hanya sedikit orang yang mampu melakukan, dan inilah yang disebut dengan ahli dalam bidangnya.