Benarkah Buku Musnah Menjelma Digital?

Benarkah Buku Musnah Menjelma Digital?

Setelah tersiar kabar edisi cetak Newsweek tutup karena tergeser edisi digital, maka semua yang berkutat pada dunia cetak mulai waspada. Maklum, Newsweek merupakan raksasa media cetak yang sudah berumur lebih dari 80 tahun. Lalu bagaimana dengan nasib buku? Apakah juga akan musnah?

Tidak bisa dimungkiri, adanya konten-konten digital membuat penjualan buku merosot drastis. Namun demikian ada beberapa hal yang menjadikan buku tetap tidak bisa tergantikan. Terutama pada kenyamanan dalam membacanya. Maka orang-orang yang suka membaca, tidak bisa berpindah dari dunia digital sepenuhnya. Oleh sebab itu toko-toko buku masih tetap bertahan.

Namun jangan terlalu pede terlebih dahulu. Dengan mudahnya orang mengakses bacaan melalui dunia digital, maka pembaca kemudian sangat selektif dalam membaca buku fisik. Oleh sebab itu buku dengan kualitas biasa akan sangat sulit diserap pasar, bahkan sedikit bagus tidak cukup. Harus cukup bagus dan enak untuk dibaca.

Fenomenanya adalah, setiap orang kini membaca dulu edisi digital sekilas, mungkin beberapa halaman. Jika kemudian benar-benar bagus, pembaca akan membeli edisi cetak untuk koleksi dan kepuasan pribadi. Penulis sendiri pernah mengalami hal demikian saat membaca 47 Ronin. Ada ketertarikan, kemudian pada akhirnya membeli edisi cetak meski sudah menonton filmnya.

Hal yang sama sebenarnya terjadi pada media lain selain buku, dunia musik. Memang semua orang mudah untuk mendownload. Namun ternyata bisnis kepingan hitam tidak hilang, atau habis. Justru ketika mendengarkan dan mendapatkan klik akan membeli piringan hitam tersebut.

Seperti yang dialami oleh David Karto seperti dikisahkan dalam Kompas, Jum’at, 23 Oktober 2015. Ia menceritakan bahwa justru di era digital ini piringan hitam menemukan pasarnya karena dipesan sampai ke luar Negeri. Uniknya, lagu-lagu yang dipasarkan justru yang jarang dikenal di layar kaca, tapi menurut David berkualitas luar biasa.

Titik penting terletak pada sisi kualitas. Jika setengah-setengah kualitasnya, lebih baik jangan dicetak, jika cukup bagus maka layak untuk dicetak. Penulis sendiri merasakan bahwa dunia buku masih tetap ada, bahkan mendapatkan pemesanan setiap bulan sekitar 50 eksemplar. Tergolong cukup untuk penulis Indie. Apalagi penerbit mayor, pasti jauh lebih banyak. Oleh sebab itu justru sekarang eranya menarik hati konsumen tanpa memandang penerbit dan penulis.
Metode Menulis Otodidak Iman Supriono

Metode Menulis Otodidak Iman Supriono

Iman Supriono adalah pakar manajemen yang tinggal di Surabaya. Biro konsultannya yang terkenal adalah SNF Consulting, namun beliau juga menulis banyak buku manajemen dan motivasi. Bukunya yang banyak terjual adalah Guru Goblok vs Murid Goblok. Namun demikian yang unik dari pria berbadan kurus ini adalah caranya belajar menulis secara otodidak.

Saya mendengarkan penjelasannya ketika menjadi moderator dalam Islamic Book Fair Surabaya 2014. Saya pribadi belum pernah mendengarkan metode menulis otodidak seperti yang dipaparkan Iman Supriono ketika itu.

Konsultan manajemen tersebut meyakini bahwa metodenya benar, meskipun bagi orang lain tidak masuk akal. Ini yang pertama di tanam dalam diri beliau. Selanjutnya yang dilakukan hanyalah mewajibkan diri untuk menulis setiap hari paling tidak satu halaman buku tulis, dan akan terus berkembang secara jumlah halaman setiap hari.

Hanya itu, ya. Tapi ini sangat sulit dilakukan. Kontinuitas yang berkepanjangan adalah hal paling melelahkan. Iman Supriono mewajibkan diri ini hampir empat tahun. Intinya menulis setiap hari, dalam hal apapun. Menulis tentang perempuan, tentang makan, keadaan perut lah, atau bahkan keadaan hati yang sedang tidak menentu. Yang terpenting nulis setiap hari tanpa berhenti.

Dasar dari metode ini adalah keyakinan bahwa menulis sebenarnya bukanlah teori, tapi praktek yang dilakukan terus menerus dan akan berkembang dari satu latihan ke latihan yang lain. Boleh dikatakan Iman Supriono seperti Ronaldinho atau Ronaldo yang berlatih sepakbola dari jalanan, tanpa akademi. Ya, Iman Supriono belajar menulis juga sendirian tanpa seorang guru.

Yang paling menimbulkan pertanyaan tentu saja bagaimana cara Iman Supriono mengetahui perkembangan tulisannya. Beliau membacanya kembali tulisan yang dibuat. Jika dirasa tulisan tersebut sudah cukup baik maka beliau baru berhenti dan memulai untuk menulis buku. Tentu saja bukan dengan penilaian asal-asalan, tapi juga membandingkannya dengan tulisan lain.

Uniknya, beliau baru mengatakan bahwa tulisannya dirasa sudah cukup baik justru setelah hampir empat tahun menulis setiap hari tanpa jeda. Ingat! Setiap hari tanpa jeda. Waktu yang panjang bukan? Padahal kelemahan banyak orang adalah memaksa diri untuk konsisten.


Hasilnya memang luar biasa, kini beliau memiliki lebih dari 7 buku yang sudah ditulis. Tergolong cukup banyak untuk penulis di Indonesia. Bagi yang ingin untuk mengikutinya, tentu saja harus memahami dua hal. Pertama, menanamkan keyakinan yang sangat tinggi dengan metode yang dijalani. Kedua, konsisten dengan hal yang sudah diyakini. Dari sini kesuksesan dalam menulis bukanlah hal yang mustahil.  
Ini Alasan Harga Buku di Indonesia Mahal

Ini Alasan Harga Buku di Indonesia Mahal

Orang Indonesia masih menganggap buku merupakan barang mewah, bukan kebutuhan sekunder, apalagi primer, masih dianggap tersier. Salah satu alasannya adalah harga buku yang tergolong mahal, meskipun sebenarnya jika dibandingkan dengan pulsa anggapan ini masih belum benar-benar betul. Namun demikian, ada banyak factor mengapa di Indonesia harga buku tergolong mahal.

Ongkos produksi buku cukup tinggi. Ini factor utama pendorong betapa mahalnya harga buku di Indonesia. Terutama harga kertas yang selalu ditentukan oleh nilai mata uang dolar Amerika. Padahal pohon di Indonesia banyak. Berapa nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar menjadi gambaran bahwa harga kertas mahal. Belum lagi tinta dan lain sebagainya. Dari sini harga buku terdongkrak naik.

Pajak tinggi untuk pelaku dunia perbukuan. Jangan dikira hanya percetakan saja yang memiliki kewajiban membayar pajak karena berbentuk perusahaan. Bahkan sampai penerbit, penulisnya, dan bukunya itu sendiri sudah terkena pajak. Akibatnya pembeli juga menanggung pajak karena ditambahkan dalam harga. Otomatis untuk mendapatkan sedikit selisih, harga buku kian dinaikkan.

Orang Indonesia gengsinya masih sangat tinggi. Apa hubungannya? Orang Indonesia tidak begitu suka buku dengan kertas murahan, cover ecek-ecek, bahkan tipis tebalnya kertas menjadi perhitungan. Buku dengan kemasan demikian meski isinya bagus, bagi orang Indonesia sangat tidak bermutu. Orang Indonesia memang banyak yang lebih suka bungkusnya daripada isinya, yaitu ilmu pengetahuan. Tentu saja untuk mencetak buku dengan kualitas demikian butuh biaya besar.

Dukungan pemerintah yang nihil. Pemerintah Indonesia memang memiliki keinginan agar kaya, bukan berkeinginan mencerdaskan masyarakatnya. Padahal kekayaan akan hadir seragam dengan kecerdasan dan kreativitas yang dimiliki. Masyarakat tidak didorong untuk membaca.

Tidak ada subsidi untuk buku seperti yang dilakukan di India yang menjadikan harga buku murah, daya baca masyarakat tinggi, dan keilmuan masyarakat meningkat. Padahal pada kisaran tahun 1955 pemerintah pernah melakukan subsidi untuk buku, yaitu dalam bentuk pemberian subsidi kepada bahan bakunya. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama. Jangan bicara keilmuan di Indonesia. Hehehehe.

Akibatnya harga buku tergolong tinggi. Padahal dari harga buku yang sudah demikian tinggi, penulis masih belum sejahtera, bahkan jauh dari kata-kata sejahtera. Efek lebih buruk lagi, sdm dengan kualitas penulisan sangat baik tidak ada yang produktif menulis dalam hidupnya, lebih baik tenaganya disalurkan pada bidang lain.  Sehingga buku-buku berkualitas di Indonesia masih belum banyak.

Namun demikian bukan berarti pelaku dunia perbukuan pesimis. Banyak yang mencoba untuk menangani problem ini dengan penerbitan indie yang langsung dijual ke konsumen. Dengan cara demikian harga buku yang mahal mampu dipotong 20% dari harga buku umumnya. Misalkan harga buku di pasar 50.000, turun menjadi 40.000, bahkan bisa lebih rendah lagi. Tetap semangat!

Belajar Menjual Buku Indie dari Ust. A. Yani

Belajar Menjual Buku Indie dari Ust. A. Yani

Di dunia dakwah, nama ust. A. Yani tidak begitu tenar seperti ustadz lain yang sering muncul di televisi. Meskipun tinggal di Jakarta, namun beliau sudah sering diundang ke beragam kota dan desa di seluruh Indonesia.  Yang unik adalah, beliau juga menulis buku dan menerbitkannya sendiri sekaligus menjualnya sendiri.

Secara kualitas, menurut saya, buku-buku beliau tergolong standard. Secara gaya penulisan biasa, dan cenderung seperti umumnya dai yang menulis dengan mencantumkan dalil kemudian dijelaskan panjang lebar. Bahkan cover banyak buku beliau sangat sederhana. Meskipun ada beberapa yang memang tergolong bagus.

Namun demikian buku yang beliau tulis saya akui tersegmentasi dengan baik dan pas dengan objek yang dituju. Buku beliau memang memenuhi apa yang dibutuhkan oleh para dai dan masjid. Tengok saja tema-tema yang beliau tulis, seputar materi khutbah, seputar pengelolaan masjid, dan seputar persoalan Islam. Artinya ini memang yang memenuhi kebutuhan umat Islam.

Cara beliau menjual juga sangat tepat. Buku-buku semacam tuntunan untuk berdakwah atau khutbah memang ditawarkan ke khalayak umum lewat bbm dan segala macamnya, namun secara khusus beliau mencari donatur yang mau untuk mendonasikan hartanya dan mewakafkan para dai lewat beliau. Maksudnya beliau mencari donatur yang mau membelikan untuk para dai-dai di seluruh pelosok Indonesia, dan juga untuk banyak masjid. Efeknya, tentu saja buku beliau tepat mencapai sasaran.

Selanjutnya, beliau tidak gengsi untuk menjual bukunya ketika berdakwah, tentu saja bukan dengan jalan memaksakan kepada para jama’ahnya, namun cukup dengan membawa saja di sebuah halaqah yang beliau isi, nanti jama’ah dipersilahkan untuk membeli. Dugaan saya, karena buku-bukunya memiliki tema yang tidak jauh dari dakwahnya, maka buku beliau tergolong cukup baik diterima oleh pembaca.

Yang cukup heboh adalah ketika beliau diundang ke sebuah acara, dan panitia sudah memesan sekian buku untuk dibawa. Kesusahan dalam membawa ratusan buku menjadi cerita tersendiri bagi ust. A. Yani. Mulai dari kelebihan muatan, sampai harus membayar ongkos lebih dll. Yang pasti, beliau adalah dai kreatif dan belum banyak yang melakukan seperti yang sudah beliau kerjakan.

Siapa Yang Untung di Perbukuan?

Siapa Yang Untung di Perbukuan?

Jika Anda sudah menjadi penulis atau membaca artikel-artikel di mbah Google tentang derita penulis dari royalti yang diterima, maka seringkali Anda bertanya, siapa sebenarnya yang benar-benar untung di bisnis perbukuan? Mari kita telaah satu persatu.
Penulis adalah sosok paling menyedihkan dalam mendapatkan bagian dari keuntungan buku. Paling besar 12%, itu pun harus dipotong dengan pajak dan lain sebagainya. Belum lagi dengan penerbit yang terkadang tidak jujur, atau bahkan buku yang hanya laku beberapa eksemplar saja.
Memang ada penulis yang mujur, biasanya karena jumlah buku yang ditulis begitu banyak, dan bukunya laris manis di pasaran. Namun demikian penulis yang seperti ini sangat jarang, bahkan bisa dikatakan satu di antara seribu penulis. Umumnya, menyedihkan.

Penerbit. Bisa dikatakan pihak ini merupakan salah satu yang menengguk untung. Dari harga buku, total yang didapat biasanya mencapai 45%, jika dipotong biaya produksi, maka bisa mencapai 25%. Ini hitungan minimal. Apalagi jika penerbit tersebut memiliki jalur distribusi sendiri, dan memiliki toko buku sendiri, maka besar.

Sayangnya, penerbit harus menanggung buku yang tidak laku. Jika ada buku yang tidak bisa terjual, maka kerugian yang harus ditanggung lumayan besar, meski didiskon besar-besaran, terkadang masih tetap tidak bisa terjual. Oleh sebab itu seringkali yang menjadi korban pada akhirnya penulis.

Pihak ketiga, distributor. Boleh dikatakan dalam bisnis perbukuan, distributor adalah pihak yang paling mahir, hanya bermodal memindahkan buku dari satu gudang ke gudang toko buku lain. Biaya transportasi besar, namun yang didapat bersih dari satu buku biasanya berkisar 10%. Ajaibnya distributor mengoleksi ribuan judul dari penerbit. Maka meskipun jumlah prosentasenya kecil, namun angka tersebut pada akhirnya tergolong besar.

Terakhir, toko buku. Inilah pihak yang paling besar menanggung untung dari bisnis perbukuan. Dari distributor biasanya mendapatkan potongan 30%. Bahkan Gramedia lebih besar. Meskipun memberikan diskon kepada konsumen, namun tetap saja toko buku mendapatkan untung yang besar. Oleh sebab itu sangat terlihat bagaimana Gramedia begitu digdaya merajai mall-mall. Dan gramedia yang menopangnya menikmati keuntungan dari adanya toko buku tersebut.

Maka penulis yang menerbitkan indie bukunya berusaha memotong arus di Penerbit. Penulis berusaha menjadi penerbit dan penulisnya sekaligus. Apalagi penulis yang menjual bukunya sendiri lewat online. Semua arus dipotong. Hal inilah yang menjadi alasan utama banyak penulis memilih menerbitkan indie.

Efek Jeleknya Kualitas Penerbitan Indie

Efek Jeleknya Kualitas Penerbitan Indie

Ada kelemahan mendasar yang dimiliki oleh penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri, indie, yaitu ketidak seriusan dalam menggarap buku tersebut. Hal ini akan terlihat pada isi, finishing, percetakan, bahkan sampai layout dan cover terkesan seadanya. Mereka berprinsip yang penting terbit. Ini kesalahan besar.

Jika Anda memperhatikan buku-buku terbitan indie, sangat mudah untuk dibedakan dengan buku terbitan penerbit. Terutama dari sisi cetak dan cover. Don’t judge a book from the cover tidak berlaku dalam dunia perbukuan. Pembaca sangat melihat pada sisi ini, dan sayangnya sisi inilah yang lemah. Semua karena terlalu terburu-buru ingin menerbitkan buku.

Harus diingat filosofi dasar sebuah buku, bahwa sekali terbit, buku tersebut sulit untuk diperbaiki dan sulit untuk ditarik kembali. Jika keluar buku tersebut secara isi jelek, dan secara penampilan jelek, maka selamanya akan terkesan jelek dalam hati pembaca. Sebaliknya, jika buku tersebut terbit dalam keadaan amazing, maka efeknya akan menjadikan buku Anda dicintai pembaca, dan selalu dinanti buku selanjutnya.

Dalam persoalan ini bisa mencontoh kepada pembuatan film Hollywood yang digarap sangat serius dan tidak buru-buru. Salah satu contohnya film Tangled yang berkisah tentang anak seorang raja yang diculik penyihir sedari kecil dan memiliki rambut sangat panjang berkekuatan ajaib. Ini film animasi, tapi digarap dalam waktu 6 tahun. Bukan waktu yang sekejap, kesabaran yang luar biasa.

Dalam hal biaya, film ini menelan angka Rp 3,63 triliun. Woowwww, angka yang terlalu banyak bagi sebuah film. Namun ini menandakan keseriusan yang ditunjukkan oleh produsernya. Dan mereka tidak berpikir biaya sedikit untung banyak, namun hasilkan sebagus mungkin maka penonton akan senang dan film akan dikenang.

Seharusnya buku juga demikian meskipun digarap secara pribadi. Dalam hal editing dibutuhkan editor handal, juga uji coba buku tersebut untuk dibaca kepada beberapa pembaca. Jika sudah proses layout yang bagus. Terakhir dicetak dengan sempurna di percetakan professional.

Biasanya keluhan penerbit indie adalah tidak ada biaya. Jika Anda memiliki keyakinan besar terhadap buku yang Anda tulis sendiri, maka yakinkan kepada orang untuk mampu membiayai buku Anda. Jika Anda sendiri tidak yakin, bagaimana pembaca Anda akan yakin dengan apa yang Anda tulis? Jangan salahkan diri jika kemudian buku tidak banyak terserap di pasar.

Menulis Sendiri atau Bersama-sama?

Menulis Sendiri atau Bersama-sama?

blog.sribu.com
Di dunia tulis menulis, dikenal istilah proyek buku bersama. Menulis satu judul buku namun diisi oleh kumpulan artikel dari beberapa penulis. Proyek semacam ini sangat populer sekali, apalagi yang ingin cepat memiliki sebuah buku. Namun demikian ada beberapa hal yang harus diketahui dalam penulisan buku bersama, terutama dari sisi untung ruginya.

Proyek semacam ini sebenarnya sangat populer dalam pembuatan buku ilmiah, sudah sangat biasa, terutama buku-buku ilmiah dari negara-negara barat yang mengikuti konsep pembuatan jurnal. Di Indonesia proyek seperti ini juga sudah biasa untuk buku-buku ilmiah. Namun demikian yang sering terjadi sekarang adalah pembuatan buku bersama dalam konten populer atau fiksi.

Buku bersama sebenarnya memiliki banyak keuntungan bagi penulis-penulis yang ada di dalamnya. Terutama jika editornya benar-benar handal. Sifat buku bersama adalah mengkompilasi tulisan-tulisan terbaik dari personal agar menjadi kumpulan tulisan yang fenomenal. Akibatnya, buku tersebut menjadi kuat secara kualitas.

Namun demikian, biasanya yang ditonjolkan dalam buku bersama hanyalah dua. Pertama, penulis yang paling ternama. Biasanya yang paling dikenal, atau yang paling otoritatif dalam menulis kajian tersebut. Kedua, editor atau kompilator dari artikel-artikel tersebut. Karena tidak bisa dimungkiri bahwa kehandalan kompilator adalah penentu dari kebagusan kualitas buku tersebut.

Memang jangan berharap secara nama akan terangkat, kecuali artikel Anda dalam buku tersebut jauh lebih bersinar dibanding yang lain, lagi-lagi kualitas. Jangan berharap lebih juga akan royalti dari sebuah buku, karena sangat jarang dengan model seperti ini royalti selalu dibagi-bagi, lebih ke konsep beli putus untuk kumpulan penulis yang ada di dalamnya. Namun berharaplah sebagai pembangun pondasi awal motivasi untuk menulis lebih jauh. Cv Anda secara otomatis akan memiliki nilai tersendiri ketika sudah memiliki tulisan yang dikompilasikan menjadi buku.

Yang unik biasanya para penulis yang memiliki motivasi yang terpenting karya tulisnya dibukukan, pokoknya dibukukan. Biasanya tidak ada kompilator handal yang membrendel tulisan-tulisan jelek dan mengasah tulisan bagus menjadi lebih cling. Akibatnya bukan kumpulan tulisan bagus, namun hanya tulisan-tulisan sangat biasa.

Proyek seperti ini jangan berharap lebih untuk kemudian buku tersebut dikenang pembaca. Namun hanya sekadar kebanggaan di antara komunitas. Apalagi orang Indonesia minat baca bukunya rendah, jika disodorkan buku yang kurang baik kualitasnya, maka lebih enggan lagi mereka untuk membaca.

Secara pribadi, penulis lebih mendorong penulis untuk menghasilkan karya secara mandiri. Secara prestisi lebih besar, secara otoritas keahlian lebih diakui, pembaca juga lebih mudah mengingat karya dan penulisnya. Apalagi didampingi editor handal, tulisannya sudah dapat dipastikan keren dan ajib. Ingat, Indonesia lebih senang jaminan dari yang sudah membaca, bukan iklan. Maka sifat buku di Indonesia lambat namun pasti.

Kendala utama dalam penulisan buku secara pribadi adalah sulitnya menghasilkan buku yang sedemikian banyak halamannya, dan berkualitas. Itu memang sudah pasti. Oleh sebab itu banyak yang memilih untuk kompilasi artikel saja. Belum lagi jika didampingi editor dan banyak perbaikan, biasanya penulis enggan. Namun kesulitan dalam menulis mandiri akan terbayar nantinya dengan apresiasi lebih dari pembaca. 
Pusat Perbukuan di Indonesia

Pusat Perbukuan di Indonesia

idliterature.wordpress.com
Mungkin Anda mengenal pasar senen di Jakarta sebagai pusat buku-buku bekas di Jakarta, atau Palasari sebagai pusat perbukuan di Bandung, atau jalan Semarang sebagai pusat buku di Surabaya. Namun demikian, apa sebenarnya barometer perbukuan di Indonesia?

Memang ketika penerbit menerbitkan sebuah buku akan mengedarkannya ke seluruh Indonesia melalui toko-toko buku. Namun demikian, sebenarnya barometer perbukuan di Indonesia hanya bisa dilihat dari kota Jakarta. Masih belum nyambung?

Ya, Jakarta. Meskipun novel Anda laris di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, namun ketika novel tersebut belum laris di Jakarta, maka jaminan Anda untuk terkenal hanya berkisar 20% dari kemungkinan yang ada.

Hal sebaliknya terjadi jika novel Anda laris di Jakarta. Sudah dapat dipastikan kemudian bahwa Anda akan mulai didekati media dan muncul sebagai penulis ternama untuk satu Indonesia. Ini memang keadaan nyata karena ternyata pasar buku di Indonesia yang luasnya hampir setara dengan eropa ini hanya bisa dilihat dari kacamata Jakarta.

40% buku terjual di ibu kota. Sisanya bertebaran di mana-mana. Bisa jadi 10% di Bandung, 15% di Jawa timur, dan sisanya lagi tersebar di mana-mana. Maka jika novel Anda terjual sampai puluhan ribu di luar Jakarta, meski disebut best seller, tapi hal tersebut tetap sulit menjadikan nama Anda akrab di telinga dan mata pembaca lewat media.

Hal yang berbeda jika novel Anda terjual di wilayah Jakarta hingga mencapai angka ribuan. Meskipun di tempat lain novel tersebut tidak dijual, namun nama Anda mudah dikenal masyarakat melalui koran dll. Jangan heran jika kemudian Anda sering mendengar ulasan tentang sebuah buku, tapi dicari di toko buku di kota Anda ternyata tidak ada. Nah, ini semua karena banyak penerbit yang mengutamakan pasar Jakarta dan mengesampingkan kota lain. Maklum, daya serap kota lain terhadap buku memang rendah.

Bukti bahwa barometer dunia perbukuan adalah Jakarta bisa dilihat dari jumlah toko Gramedia yang ada di Jakarta, bukan toko lain. Dari info dari distributor Agromedia Group, saya mendapatkan info bahwa untuk wilayah Jakarta saja, ada sekitar lebih dari 50 toko buku Gramedia.
Bagi saya ini sangat masuk akal mengingat jumlah mall di Jakarta lebih dari 130, dan terbanyak di dunia untuk sebuah kota. Faktanya hampir di setiap mall besar terdapat toko buku Gramedia. Belum lagi Gramedia yang berdiri mandiri semacam di Matraman dll.

Bandingkan dengan jumlah toko buku Gramedia di kota lain, Jogja yang katanya pusat mahasiswa, ternyata daya belinya tidak cukup tinggi, Gramedia hanya bisa dihitung dengan jari. Mungkin karena kantong mahasiswa yang tidak mudah membeli buku bacaan. Bandung juga tidak begitu banyak, di sana bukan kota baca, tapi kota mode. Surabaya, setali tiga uang lebih ramai gerai handphone daripada buku.

Maka jika Anda ingin benar-benar ingin dikenal sebagai penulis hebat, maka buku-bukunya harus tersebar di wilayah ibu kota. Jika Anda menyanggah dengan mengatakan punya teman yang mampu menjual buku di luar kota Jakarta hingga puluhan ribu, maka saya juga akan mengatakan bahwa saya juga punya teman yang demikian. Larisnya buku, tidak menjamin Anda dikenal oleh masyarakat luas sebagai penulis meskipun banyak tips yang bisa digunakan (akan dijelaskan)
Royalti Penulis di Indonesia

Royalti Penulis di Indonesia

idliterature.wordpress.com
Menulis buku menjadi impian semua penulis, ini sebuah penegasan dari identitas penulis itu sendiri bahwa dirinya memang seorang penulis. Gengsi memiliki buku memang tinggi, sayangnya seringkali tidak lahir karya kedua, ketiga, dan seterusnya. Hanya mangkir di karya pertama. Boleh jadi alasannya adalah royalti. Ya, banyak yang tidak mengetahui realitas royalti penulis di penerbit. Berikut akan kami jelaskan secara detil. 

Rata-rata royalti penulis di Indonesia sebesar 5-10% dari harga buku. Jika harga buku 100.000, maka royalti yang akan diterima sebesar 5.000-10.000. Rata-rata penerbit di Indonesia mencetak 2.000 eksemplar, maka royalti yang diterima berkisar 10.000.000 sampai 20.000.000. Terlihat besar bukan? Tapi, nyatanya tidak demikian. Royalti dihitung dari buku yang laku di pasaran. Jika hanya terjual 1.000, maka royalti yang didapatkan berkisar 5.000.000-10.000.000. Ingat ini hanya perkiraan dengan harga buku 100.000. Padahal di Indonesia rata-rata harga buku sekarang (2015) sekitar 40.000-60.000.

Uniknya lagi, tidak banyak penulis yang mendapatkan royalti benar-benar 10%. Jika di penerbit kecil, maka hanya mendapatkan 5%, alasannya kemampuan penerbit memang memberikan hanya 5%. Namun di penerbit yang sedikit lebih besar akan mendapatkan royalti sekitar 8%, alasannya masih penulis pemula di penerbitnya. Sangat jarang yang mampu mencapai royalti 10%.

Sekarang ada sistem yang lebih miris lagi. Royalti penulis dibayar dengan buku. Jadi penulis akan mendapatkan 10% dari total cetak. Sekitar 200 eksemplar buku. Nanti terserah penulis bagaimana menjualnya. Sayangnya tidak banyak penulis yang bisa menjual sendiri bukunya, akhirnya dibagikan. 

Untuk persoalan royalti, paling bagus adalah penerbit yang sudah besar dan mapan. Biasanya akan memberikan sebesar 8-12% dari harga buku. Terutama Republika, atau Gramedia yang memiliki jaringan toko buku sendiri. Namun demikian antrinya naskah di sana sampai harus menunggu 2-4 bulan (belum update) untuk mendapatkan jawaban. 

Umumnya, pembayaran dilakukan tidak langsung setiap bulan kepada penulis. Penerbit besar biasanya tiga bulan sekali, penerbit kecil enam bulan sekali. Anda tahu kenapa demikian? Karena royaltinya kecil jika hanya perbulan. Ya, penjualan buku memang tidak begitu cepat.

Yang paling menjengkelkan untuk banyak penulis adalah ketidakjujuran penerbit dalam memberikan laporan kepada penulis. Biasanya dalam kasus cetak ulang, sudah cetak ulang dua kali hanya diberitahu dicetak ulang sekali. Terutama penerbit menengah ke bawah (tentu saja tidak semua). Bagi yang sudah sering berhubungan dengan penerbit kemungkinan besar sudah mengetahui hal demikian. 

Wajar jika kemudian banyak penulis mapan justru menggunakan indie publishing, menerbitkan sendiri. Contoh, Asma Nadia, Dukut Imam Widodo, bahkan Dr. Alfan Alfian juga menerbitkan secara indie.

Memang menerbitkan di penerbit memiliki kelebihan yang tidak bisa dimiliki penerbit Indie (akan dijelaskan lebih detil), terutama kecepatan dalam menegenalkan nama penulis kepada publik, apalagi penerbit indie sangat melelahkan (cek di sini). Namun demikian hal-hal di atas layak dijadikan pertimbangan bagi Anda yang sudah menekuni dunia tulis menulis.