Review Buku Catatan Muslimah Sebelum Menikah

Review Buku Catatan Muslimah Sebelum Menikah

Pertama kali membaca judul buku ini pasti Anda akan merasakan segmentasi yang sangat terarah dari penerbit buku ini. Buku Catatan Muslimah Sebelum Menikah memang diperuntukkan bagi para wanita yang ingin berniat mencari jodoh, atau sudah ada calon namun ingin mengetahui cara menuju ke jenjang pernikahan, atau sampai pada cara dalam menempuh perjodohan.

Buku ini ditulis oleh penulis novel handal Ma’mun Affany yang sudah melahirkan 7 novel yang berkisah seputar dunia perempuan. Oleh sebab itu gaya bahasa ringan dan renyah khas novel yang bisa dilahap semalam menjadi identitas tersendiri dari buku ini. Terlebih hadir karikatur untuk menjelaskan tentang maksud dari penulisan dengan bahasa satir yang menyentil pembacanya.

Buku Catatan Muslimah Sebelum Menikah dimulai dengan pembahasan tentang benarkah Anda tepat untuk menikah, kemudian dilanjutkan dengan persoalan mengapa anak muda lebih memilih pacaran, hingga dilanjutkan dengan menjelaskan bahwa lebih lama pacaran justru lebih rentan akan kekecewaan, putus, dan juga tanpa kejutan dalam pernikahan.

Dari pembahasannya saja, terkesan bahwa buku Catatan Muslimah Sebelum Menikah memang mencoba untuk mendekati perempuan dari segala hal yang dialami seputar perasaan terhadap virus merah jambu. Bahkan buku ini mengungkapkan dengan baik alasan bahwa perjodohan sebenarnya bukan hal yang tabu, bahkan sudah menjadi tren untuk perempuan zaman sekarang. Hanya saja gengsi menjadikan perempuan tak mau mendekati budaya ini.

Buku ini ditutup dengan pembahasan kepada perempuan untuk bersiap-siap jika ada laki-laki yang melamar. Sikapnya, cara menerimanya, bahkan bagaimana harus bersikap ketika dilamar dibahas dengan ringan. Bahkan pembahasan haruskah tukar cincin ketika lamaran juga menjadi pembahasan dalam buku ini.

Dibandingkan buku lain, maka buku Catatan Muslimah Sebelum Menikah tergolong sangat spesifik karena hanya membahas seputar masa menjelang pernikahan. Umumnya buku yang sejenis lebih membahas dari mengenal laki-laki, sampai pada masa setelah pernikahan. Namun buku ini unik, khusus membahas sebelum pernikahan. Pemahaman penulis akan dunia perempuan menjadikannya luwes dalam membuat uraian.

Dasar buku ini memang bersumber dari ayat-ayat dalam al Quran, juga dari hadist. Sayangnya tidak dicantumkan ayat dan hadist yang menjadi rujukan, sebatas artinya saja yang menjadi ulasan utama. Sepertinya buku ini sengaja mendekati remaja yang lebih suka untuk diajak berpikir, bukan dinasehati, sehingga tulisannya cenderung mengedepankan alasan logis dari setiap tuntunan.

Secara umum buku ini sangat direkomendasikan bagi perempuan yang ingin, atau sedang mencari jodoh. Mengingat dalam Islam niat dan proses yang baik akan menjadi pertanda dari akhir pekerjaan yang baik, maka buku ini menjadi tuntunan muslimah yang ingin mendapatkan jodoh yang terbaik.

Bila ingin melihat sekilas isinya bisa didownload di sini

Belajar Menjual Buku Indie dari Ust. A. Yani

Belajar Menjual Buku Indie dari Ust. A. Yani

Di dunia dakwah, nama ust. A. Yani tidak begitu tenar seperti ustadz lain yang sering muncul di televisi. Meskipun tinggal di Jakarta, namun beliau sudah sering diundang ke beragam kota dan desa di seluruh Indonesia.  Yang unik adalah, beliau juga menulis buku dan menerbitkannya sendiri sekaligus menjualnya sendiri.

Secara kualitas, menurut saya, buku-buku beliau tergolong standard. Secara gaya penulisan biasa, dan cenderung seperti umumnya dai yang menulis dengan mencantumkan dalil kemudian dijelaskan panjang lebar. Bahkan cover banyak buku beliau sangat sederhana. Meskipun ada beberapa yang memang tergolong bagus.

Namun demikian buku yang beliau tulis saya akui tersegmentasi dengan baik dan pas dengan objek yang dituju. Buku beliau memang memenuhi apa yang dibutuhkan oleh para dai dan masjid. Tengok saja tema-tema yang beliau tulis, seputar materi khutbah, seputar pengelolaan masjid, dan seputar persoalan Islam. Artinya ini memang yang memenuhi kebutuhan umat Islam.

Cara beliau menjual juga sangat tepat. Buku-buku semacam tuntunan untuk berdakwah atau khutbah memang ditawarkan ke khalayak umum lewat bbm dan segala macamnya, namun secara khusus beliau mencari donatur yang mau untuk mendonasikan hartanya dan mewakafkan para dai lewat beliau. Maksudnya beliau mencari donatur yang mau membelikan untuk para dai-dai di seluruh pelosok Indonesia, dan juga untuk banyak masjid. Efeknya, tentu saja buku beliau tepat mencapai sasaran.

Selanjutnya, beliau tidak gengsi untuk menjual bukunya ketika berdakwah, tentu saja bukan dengan jalan memaksakan kepada para jama’ahnya, namun cukup dengan membawa saja di sebuah halaqah yang beliau isi, nanti jama’ah dipersilahkan untuk membeli. Dugaan saya, karena buku-bukunya memiliki tema yang tidak jauh dari dakwahnya, maka buku beliau tergolong cukup baik diterima oleh pembaca.

Yang cukup heboh adalah ketika beliau diundang ke sebuah acara, dan panitia sudah memesan sekian buku untuk dibawa. Kesusahan dalam membawa ratusan buku menjadi cerita tersendiri bagi ust. A. Yani. Mulai dari kelebihan muatan, sampai harus membayar ongkos lebih dll. Yang pasti, beliau adalah dai kreatif dan belum banyak yang melakukan seperti yang sudah beliau kerjakan.

Siapa Yang Untung di Perbukuan?

Siapa Yang Untung di Perbukuan?

Jika Anda sudah menjadi penulis atau membaca artikel-artikel di mbah Google tentang derita penulis dari royalti yang diterima, maka seringkali Anda bertanya, siapa sebenarnya yang benar-benar untung di bisnis perbukuan? Mari kita telaah satu persatu.
Penulis adalah sosok paling menyedihkan dalam mendapatkan bagian dari keuntungan buku. Paling besar 12%, itu pun harus dipotong dengan pajak dan lain sebagainya. Belum lagi dengan penerbit yang terkadang tidak jujur, atau bahkan buku yang hanya laku beberapa eksemplar saja.
Memang ada penulis yang mujur, biasanya karena jumlah buku yang ditulis begitu banyak, dan bukunya laris manis di pasaran. Namun demikian penulis yang seperti ini sangat jarang, bahkan bisa dikatakan satu di antara seribu penulis. Umumnya, menyedihkan.

Penerbit. Bisa dikatakan pihak ini merupakan salah satu yang menengguk untung. Dari harga buku, total yang didapat biasanya mencapai 45%, jika dipotong biaya produksi, maka bisa mencapai 25%. Ini hitungan minimal. Apalagi jika penerbit tersebut memiliki jalur distribusi sendiri, dan memiliki toko buku sendiri, maka besar.

Sayangnya, penerbit harus menanggung buku yang tidak laku. Jika ada buku yang tidak bisa terjual, maka kerugian yang harus ditanggung lumayan besar, meski didiskon besar-besaran, terkadang masih tetap tidak bisa terjual. Oleh sebab itu seringkali yang menjadi korban pada akhirnya penulis.

Pihak ketiga, distributor. Boleh dikatakan dalam bisnis perbukuan, distributor adalah pihak yang paling mahir, hanya bermodal memindahkan buku dari satu gudang ke gudang toko buku lain. Biaya transportasi besar, namun yang didapat bersih dari satu buku biasanya berkisar 10%. Ajaibnya distributor mengoleksi ribuan judul dari penerbit. Maka meskipun jumlah prosentasenya kecil, namun angka tersebut pada akhirnya tergolong besar.

Terakhir, toko buku. Inilah pihak yang paling besar menanggung untung dari bisnis perbukuan. Dari distributor biasanya mendapatkan potongan 30%. Bahkan Gramedia lebih besar. Meskipun memberikan diskon kepada konsumen, namun tetap saja toko buku mendapatkan untung yang besar. Oleh sebab itu sangat terlihat bagaimana Gramedia begitu digdaya merajai mall-mall. Dan gramedia yang menopangnya menikmati keuntungan dari adanya toko buku tersebut.

Maka penulis yang menerbitkan indie bukunya berusaha memotong arus di Penerbit. Penulis berusaha menjadi penerbit dan penulisnya sekaligus. Apalagi penulis yang menjual bukunya sendiri lewat online. Semua arus dipotong. Hal inilah yang menjadi alasan utama banyak penulis memilih menerbitkan indie.

Untuk Apa Menulis Jika Tidak Dibaca?

Untuk Apa Menulis Jika Tidak Dibaca?

Saya mendapatkan pertanyaan ini ketika mengisi acara bedah buku “Resep Ajaib Menulis Novel”. Pertanyaan ini seolah menyatakan bahwa ketika kita menulis dan tahu bahwa nantinya tulisan kita tidak banyak orang untuk membaca, maka untuk apa kita menulis?

Coba kita perhatikan apa yang dilakukan perempuan ketika mereka menulis. Ya, perempuan ketika menulis tidak pernah berpikir untuk dibaca banyak orang tulisannya, bahkan seringkali menyembunyikan hasil tulisannya dalam sebuah agenda yang tertutup dan dikunci dengan gembok yang sedemikian rupa. Lalu untuk apa mereka menulis?

Menulis menjadi sebuah media untuk mengeluarkan gejolak gelisah yang ada di dalam hati kita. Tulisan memang sebuah sarana paling ampuh untuk mengeluarkan segala amarah, sedih, bahkan rasa bahagia, banyak ungkapan yang tidak bisa diucapkan, mampu untuk ditulis dan membuat isi hati menjadi lega kemudian.

Menulis memiliki sisi lain sebagai terapi untuk hati yang gundah gulana. Anda pasti tahu curhat dengan bercerita ke teman menjadikan hati yang tadinya sesak menjadi terasa plong kemudian. Begitu juga dengan menulis. Ajaibnya, ketika curhatan tersebut tertata, dan kemudian enak dibaca, justru banyak orang yang ingin menikmati hasil karya Anda. Catatan Hati Seorang Istri adalah salah satu contohnya.

Isi dari buku tersebut adalah cerita-cerita dramatis dalam bentuk curahan hati oleh sosok perempuan. Asma Nadia mengemasnya dengan manis, dan menyajikannya menjadi sebuah buku yang selanjutnya justru menjadi cermin bagi para perempuan yang merasakan hal yang sejenis.

Maka Anda tetap harus menulis meski tahu tidak banyak yang akan membaca, karena bisa jadi justru dengan menulis hati Anda tenang dan nyaman dalam menghadapi setiap persoalan.

Efek Jeleknya Kualitas Penerbitan Indie

Efek Jeleknya Kualitas Penerbitan Indie

Ada kelemahan mendasar yang dimiliki oleh penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri, indie, yaitu ketidak seriusan dalam menggarap buku tersebut. Hal ini akan terlihat pada isi, finishing, percetakan, bahkan sampai layout dan cover terkesan seadanya. Mereka berprinsip yang penting terbit. Ini kesalahan besar.

Jika Anda memperhatikan buku-buku terbitan indie, sangat mudah untuk dibedakan dengan buku terbitan penerbit. Terutama dari sisi cetak dan cover. Don’t judge a book from the cover tidak berlaku dalam dunia perbukuan. Pembaca sangat melihat pada sisi ini, dan sayangnya sisi inilah yang lemah. Semua karena terlalu terburu-buru ingin menerbitkan buku.

Harus diingat filosofi dasar sebuah buku, bahwa sekali terbit, buku tersebut sulit untuk diperbaiki dan sulit untuk ditarik kembali. Jika keluar buku tersebut secara isi jelek, dan secara penampilan jelek, maka selamanya akan terkesan jelek dalam hati pembaca. Sebaliknya, jika buku tersebut terbit dalam keadaan amazing, maka efeknya akan menjadikan buku Anda dicintai pembaca, dan selalu dinanti buku selanjutnya.

Dalam persoalan ini bisa mencontoh kepada pembuatan film Hollywood yang digarap sangat serius dan tidak buru-buru. Salah satu contohnya film Tangled yang berkisah tentang anak seorang raja yang diculik penyihir sedari kecil dan memiliki rambut sangat panjang berkekuatan ajaib. Ini film animasi, tapi digarap dalam waktu 6 tahun. Bukan waktu yang sekejap, kesabaran yang luar biasa.

Dalam hal biaya, film ini menelan angka Rp 3,63 triliun. Woowwww, angka yang terlalu banyak bagi sebuah film. Namun ini menandakan keseriusan yang ditunjukkan oleh produsernya. Dan mereka tidak berpikir biaya sedikit untung banyak, namun hasilkan sebagus mungkin maka penonton akan senang dan film akan dikenang.

Seharusnya buku juga demikian meskipun digarap secara pribadi. Dalam hal editing dibutuhkan editor handal, juga uji coba buku tersebut untuk dibaca kepada beberapa pembaca. Jika sudah proses layout yang bagus. Terakhir dicetak dengan sempurna di percetakan professional.

Biasanya keluhan penerbit indie adalah tidak ada biaya. Jika Anda memiliki keyakinan besar terhadap buku yang Anda tulis sendiri, maka yakinkan kepada orang untuk mampu membiayai buku Anda. Jika Anda sendiri tidak yakin, bagaimana pembaca Anda akan yakin dengan apa yang Anda tulis? Jangan salahkan diri jika kemudian buku tidak banyak terserap di pasar.

Tips menulis artikel bagus 1

Tips menulis artikel bagus 1

Pada sesi ini klinik menulis akan memberikan satu tips sederhana agar tulisan artikel kita menjadi lebih baik, bagus, dan enak untuk dibaca.

Seringkali penulis terjebak dengan kesalahan-kesalahan umum yang biasa dilakukan oleh penulis. Salah satu kesalahan mendasar dalam menulis artikel adalah pengulangan kata yang sama dalam satu paragraf, terlebih dalam satu kalimat. Ini membuat pembaca akan bosan dan tulisan akan tampak monoton.

Kata-kata yang biasanya diulang dalam menulis adalah ‘yang’, ‘dan’, ‘maka’, dan sejenisnya. Contoh:

Fandi orang yang sangat pintar yang rajin mengatur waktu hingga sukses dalam setiap pekerjaan.

Dalam kalimat di atas tampak kata yang terulang dua kali, ini sangat tidak bagus dalam susunan sebuah kalimat. Bandingkan dengan ini:

Fandi orang pintar yang rajin mengatur waktu hingga sukses dalam setiap pekerjaan.

Sebenarnya yang dihilangkan hanyalah kata yang, namun demikian memiliki efek bahwa tulisan tersebut menjadi jauh lebih bagus dari sebelumnya dan enak dibaca.

Biasanya setiap penulis memiliki kebiasaan pengulangan kata yang sama untuk semua paragraf. Ada yang sangat suka dengan ‘yang’, ada juga yang sangat suka dengan ‘dan’. Untuk menghilangkannya caranya mudah. Pertama, baca ulang artikel tersebut kemudian berikan garis bawah pada kata yang sama.

Kedua, hilangkan salah satu kata pada tempat yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kata tersebut. Ketiga, pilihlah susunan kalimat yang sesuai sehingga kalimat terlihat efektif dan efisien dalam menyampaikan ide kepada pembaca.

Selamat mencoba.