Tips menulis artikel bagus 1

Tips menulis artikel bagus 1

Pada sesi ini klinik menulis akan memberikan satu tips sederhana agar tulisan artikel kita menjadi lebih baik, bagus, dan enak untuk dibaca.

Seringkali penulis terjebak dengan kesalahan-kesalahan umum yang biasa dilakukan oleh penulis. Salah satu kesalahan mendasar dalam menulis artikel adalah pengulangan kata yang sama dalam satu paragraf, terlebih dalam satu kalimat. Ini membuat pembaca akan bosan dan tulisan akan tampak monoton.

Kata-kata yang biasanya diulang dalam menulis adalah ‘yang’, ‘dan’, ‘maka’, dan sejenisnya. Contoh:

Fandi orang yang sangat pintar yang rajin mengatur waktu hingga sukses dalam setiap pekerjaan.

Dalam kalimat di atas tampak kata yang terulang dua kali, ini sangat tidak bagus dalam susunan sebuah kalimat. Bandingkan dengan ini:

Fandi orang pintar yang rajin mengatur waktu hingga sukses dalam setiap pekerjaan.

Sebenarnya yang dihilangkan hanyalah kata yang, namun demikian memiliki efek bahwa tulisan tersebut menjadi jauh lebih bagus dari sebelumnya dan enak dibaca.

Biasanya setiap penulis memiliki kebiasaan pengulangan kata yang sama untuk semua paragraf. Ada yang sangat suka dengan ‘yang’, ada juga yang sangat suka dengan ‘dan’. Untuk menghilangkannya caranya mudah. Pertama, baca ulang artikel tersebut kemudian berikan garis bawah pada kata yang sama.

Kedua, hilangkan salah satu kata pada tempat yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kata tersebut. Ketiga, pilihlah susunan kalimat yang sesuai sehingga kalimat terlihat efektif dan efisien dalam menyampaikan ide kepada pembaca.

Selamat mencoba.
Pengertian dan Fungsi Paragraf Klasifikasi

Pengertian dan Fungsi Paragraf Klasifikasi

Klasifikasi memiliki arti penyusunan bersistem dalam sebuah kelompok atau golongan menurut kesamaan jenis. Demikian pula dengan paragraf klasifikasi, paragraf ini merupakan jenis paragraf yang mengelompokkan sebuah ide berdasarkan kesamaan. Ciri-cirinya tentu saja ada pengelompokkan.

Biasanya kalimat awal dari paragraf ini selalu “Ada beberapa kelompok”, atau “Ada tiga macam ilmu dalam...”. Selanjutnya isi dari paragraf tersebut adalah penjabaran dari beberapa kelompok yang telah disebutkan.

Untuk latihan, paragraf ini menurut hemat penulis tergolong paling mudah karena hanya mengelompokkan namun tidak menjabarkan. Namun demikian paragraf klasifikasi selalu membutuhkan ketelitian dalam mengelompokkan sesuatu. Kelemahan umum dalam pembuatan paragraf ini biasanya di kalimat topik menyebut tiga macam ilmu agama, penjelasannya justru menyebut ilmu pengetahuan alam.

Fungsi paragraf klasifikasi secara khusus bisa digunakan sebagai kesimpulan dalam sebuah tulisan. Hasil ide-ide yang dibahas panjang lebar akan lebih sistematis jika disimpulkan dan menggunakan paragraf klasifikasi.

Saran penulis jika ingin matang menulis ilmiah, lebih baik harus menguasai paragraf ini.
Tips Menjadikan Opini Cepat Dimuat

Tips Menjadikan Opini Cepat Dimuat

Sudah berapa kali mengirim opini dan ditolak oleh koran? Puluhan atau bahkan ratusan? Ini memang sudah biasa dialami oleh seorang penulis opini. Namun Anda harus mengikuti kata pepatah yang menyatakan “jangan melakukan kesalahan sampai berkali-kali”. Oleh sebab itu perhatikan beberapa hal yang paling dipertimbangkan oleh koran dalam menerima tulisan opini yang Anda kirimkan.

1. Otoritas penulis. Faktor ini menjadi faktor yang paling diperhatikan oleh koran dalam menilai sebuah opini. Jika tulisan berkaitan tentang hukum, maka penulis yang memiliki kepakaran dalam hukum lebih diutamakan. Bukan berarti anak smp tidak akan berhasil menulis opini, ketika anak smp menulis tentang kehidupan smp, maka ia memiliki otoritas dalam menulis tersebut.

Dalam hal otoritas, bagi Anda yang tidak memiliki gelar jangan berkecil hati. Koran juga memperhatikan lembaga-lembaga riset yang memiliki fungsi meneliti dalam kajian-kajian tertentu. Oleh sebab itu jika Anda menulis peneliti politik di Bina Qalam Institute pasti akan menjadi sebuah pertimbangan lebih.

2. Aktualisasi tema opini. Faktor ini sebenarnya adalah faktor pertama yang menjadi pertimbangan untuk dibuka tidaknya tulisan Anda yang masuk ke meja redaksi. Sedang hangat-hangatnya perpecahan partai politik, Anda justru menulis tentang kekuatan moral sepakbola, jelas tidak dibuka. Namun demikian, dalam pertimbangan untuk pemuatan, faktor aktualisasi tema menjadi nomor dua setelah kepakaran. Yang terpenting ketika semua isu ke utara, Anda jangan menulis isu selatan.

3. Sudut pandang penulis. Dalam menulis opini, yang sering terjadi adalah kesamaan sudut pandang antar penulis. Oleh sebab itu, sudut pandang berbeda akan sangat diperhatikan. Contoh: Habis Suara Jusuf Kalla, ini masih biasa, banyak orang yang menulis demikian. Tapi jika ada yang menulis “Jusuf Kalla Dulu dan Sekarang” maka unsur pembandingan menjadi pembeda sudut pandang.

4. Argumentasi penulis. Opini merupakan sebuah pendapat yang beralasan kuat. Maka fungsi argumen akan menjadikan opini Anda tidak terbantahkan, hal ini yang kemudian menjadikan opini Anda laik muat. Disinilah alasan Otoritas penulis sangat dipertimbangkan karena argumentasi yang dibangun pasti memiliki landasan yang kuat.

5. Orisinilitas opini. Tidak semua opini orisinil meskipun dasar argumennya berbeda-beda. Terkadang ada penulis yang mengambil opini orang lain namun ia mencari celah dengan dasar argumen yang berbeda. Ingat, penjaga gawang opini di meja redaksi sudah terlalu sering membaca opini, kemungkinan untuk terkecoh hanya 10%.

6. Sistematika pembahasan. Dalam menulis opini, rata-rata memiliki sistematika pembahasan dengan model piramida terbalik yang berangkat dari hal umum menuju kesimpulan yang khusus. Sistematika yang kacau balau hanya akan menjadikan tulisan tidak dibaca hingga selesai.

7. Kesesuaian dengan persyaratan redaksi. Redaksi tidak memiliki waktu banyak untuk mengedit konten, mayoritas editing hanya pada sisi bahasa. Oleh sebab itu memenuhi syarat dari redaksi, terutama berkaitan dengan jumlah kata yang diminta adalah hal wajib. Terutama jangan melebihi kriteria yang diminta. Kebanyakan jumlah kata hanya menjadikan tulisan Anda dibuka, namun lebih cepat ditutup kembali oleh redaksi.

Selamat mencoba.
Cara Mudah Membuat Resensi Buku 2

Cara Mudah Membuat Resensi Buku 2

6. Perbandingan dengan buku yang sejenis. Ini bagian yang paling sulit dalam resensi, terutama berkaitan dengan jam terbang penulis dalam membaca buku. Jika penulis memiliki jam terbang membaca yang sedikit, maka akan sulit menemukan buku yang sejenis, terutama berkaitan dengan kesamaan tema. Jika sudah menemukan, maka bandingkanlah dengan buku tersebut.

Jika memang lebih baik dalam beragam sisi maka sampaikan beragam sisi tersebut. Contoh: buku ini dibandingkan dengan buku yang sejenis semacam buku A memiliki kelebihan dalam penyajian ide yang begitu ringan... Jika memang lebih jelek, maka juga harus disampaikan. Contoh: dibandingkan buku yang mirip semisal buku B, buku ini memiliki kekurangan dalam sistematika ide yang berlompat-lompat.

7. Kesimpulan dan saran. Jika dalam review handphone, saran yang diberikan tentu saja untuk membeli handphone tersebut. Dalam resensi buku, saran yang diberikan tidak sesederhana demikian. Awali dengan sebuah kesimpulan tentang buku tersebut, bagus, buruk, atau mungkin cocok untuk segmen akademisi dan lain sebagainya.

Selanjutnya berikan saran kepada pembaca untuk membaca dengan hati-hati karena ide yang rumit, atau membaca sambil jalan-jalan karena bisa menjadi alternatif hiburan. Hal seperti ini sah saja dalam sebuah resensi.

Yang menjadi perhatian adalah jumlah kata yang disediakan oleh media yang akan memuat sebuah resensi. Jika ruang yang disediakan sedikit, maka tidak semua unsur dimasukkan, biasanya hanya unsur-unsur penting saja yang lebih diutamakan. Membandingkan dengan buku sejenis, atau sisi lain di balik buku tersebut tidak dibahas.

Tentu saja faktor yang paling krusial adalah membaca buku yang akan diresensi secara mendalam agar bisa menelanjangi isi buku dengan sebaik-baiknya.

Cara Mudah Membuat Resensi Buku 1

Cara Mudah Membuat Resensi Buku 1

blog.sribu.com
Resensi buku pada dasarnya merupakan sebuah penilaian penulis terhadap sebuah buku. Artinya resensi buku paling tidak mencakup ulasan tentang buku tersebut dari beragam sisi, sekaligus memaparkan baik buruknya sebuah buku sekaligus rekomendasi sebagai sebuah kesimpulan akhir.

Untuk membuatnya, secara sederhana bisa melihat bagaimana majalah-majalah gadget mereview sebuah handphone yang baru muncul di pasaran. Diulas pabrikan mana yang mengeluarkan, jenis handphonenya, android, ios, atau windows. Jeroan system operasinya, hardware, bahkan sampai detil bentuk fisiknya juga diulas. Begitu pula resensi buku, hanya saja yang direview bukanlah handphone.

Hal paling pokok yang tidak boleh dilewatkan dalam resensi buku adalah informasi pokok dari buku tersebut. Dimulai dari penulis, judul, penerbit, kota penerbit, tahun penerbitan, jumlah halaman, bahkan ukuran. Biasanya ditulis sebagai informasi di awal bagian resensi.
Adapun dalam menulisnya paling tidak ada beberapa bagian pokok yang harus ada dalam resensi tersebut.

1. Pendahuluan, tidak mesti tentang buku tersebut. Leading, awal mula tulisan lebih baik yang benar-benar menggugah pembaca tentang sesuatu hal yang berkaitan dengan buku tersebut.

2. Pembahasan tentang buku. Baik diri sisi tema, dari sisi penulis, maupun dari sisi sudut pandang yang digunakan penulis harus diurai dengan baik dan mendalam. Bahkan cara penyampaian yang digunakan juga diulas.

3. Konsep kunci dalam buku. Dalam sebuah buku selalu ada konsep kunci, konsep penjelas, ada penjelasan dan penjabaran. Dalam resensi, penulis harus mengungkap apa konsep kunci atau isi inti dari sebuah buku. Jika tidak, maka sangat jelas sekali jika penulis resensi tidak memahami isi dari buku tersebut.

4. Faktor pendukung. Dalam resensi tidak banyak yang mampu mengungkap faktor yang ada di balik penerbitan sebuah buku. Contoh, latar belakang penulis dalam menulis buku. Keadaan ketika buku diterbitkan apakah mencari momentum. Contoh, jika penulis terlihat mengritik pemerintah, maka tampilkan dan jelaskan.

5. Kritik dan sanjungan. Jika dalam buku yang diresensi memili kelebihan, maka patut untuk dijelaskan kelebihan tersebut secara detil, baik dari segi bahasa, cara memaparkan sebuah ide, atau orisinilitas dari ide dalam buku tersebut. Namun jika terdapat ide yang kontroversial, maka penulis resensi juga berhak memberikan kritik dengan porsi yang tidak berlebihan, dikhawatirkan lebih banyak kritik daripada uraian tentang buku. Contoh: ada ide tentang menggulingkan presiden dan ide ini tidak relevan di masa demokrasi seperti sekarang, maka diutarakan.

Next